postingan terbaru

Loading

Sabtu, 24 September 2011

Proposal PTK SD Tematik Kelas I di Indramayu


PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN METODE RESITASI (PENUGASAN) DALAM  MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA DENGAN PENDEKATAN TEMATIK DI KELAS I SDN GADEL III
KECAMATAN TUKDANA KABUPATEN INDRAMAYU
















Oleh:
................................






SD NEGERI GADEL III
UPTD PENDIDIKAN TUKDANA
KABUPATEN INDRAMAYU

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Proses pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses komunikasi yang bersifat timbal nalik antara guru dan siswa, antara siswa dengan siswa dan siswa dengn lingkungannya. Oleh karena itu sebagai seorang guru harus mampu mengkondisikan agar proses timbal balik tersebut dapat terjadi dengan posistif yang mengarah pada pencapaian tujuan pembelajaran.
            Sejalan dengan itu, guru harus menetapkan strategi pembelajaran yang tepat, sehingga dapat mendorong terjadinya perbuatan belajar siswa  yang aktif, produktif, dan efisien. Aktif dapat diartikan bahwa pembelajaran memunginkan siswa dapat mengembangkan kreativitasnya, sedangkan produktif mengandung makna bahwa pembelajaran harus melibatkan siswa untuk meningkatkan kemampuan akademik yang meningkat. Selain itu efisien dalam pembelajaran merupakan suatu keadaan pembelajaran yang dilakukan dengan waktu yang sesuai alokasinya dan keberhasilan dalam belajar dapat tercapai.
            Namun demikian, guru harus memperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi secara langsung dalam menentukan strategi kegiatan pembelajaran. Menurut Asep Heri Hermawan (2007: 11.8) diungkapkan bahwa faktor-fktor tersebut adalah”….keadaan siswa, kemampuan guru,  tujuan pembelajaran, sarana dan prasarana, materi pelajaran” Penjelasan dari  uraian tersebut dapat penulis jabarkan sebagai berikut:


1.   Kemampuan Siswa
         Dalam merancang kegiatan belajar mengajar, guru harus mengetahui terlebih dahulu kemampuan awal  siswa. Pemahaman terhadap pengetahuan awal siswa merupakan titik awal bagi guru untuk merancang egiatan pembelajaran, baik yang menyangkut  tujuan, materi, metode, dan evaluasi.          
2.   Kemampuan Guru
          Selain kemampuan siswa, kemampuan guru juga mendapat perhatian yang penting, karena kemampuan guru berdmpak langsung pada pelaksanaan strategi pembelajaran yang telah disusun.
3.  Tujuan Pembelajaran
           Komponen tujuan dalam kegiatan pembelajaran berperan sebagai penentu arah untuk melaksanakan  komponen yang lain. Untuk itu tujuan pembelajaran perlu dijadikan prioritas dalam merancang kegiatan pembelajaran.
3.  Sarana dan Prasarana
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah sarana dan prasarana  pembelajaran yang berfungsi sebagai penjelas dalam menyampaikan materi pembelajaran. Apabila sarana dan prasarana tidak tersedia dengan lengkap, sudah menjadi keharusan seorang gurur harus berkreasi dalam mensiasati keterbatasan sarana dan prasarana.
4.   Materi
           Materi pembelajaran menjadi faktor penting karena materi merupakan isi dari seluruh kegiatan  pembelajaran yang kita rancang. Oleh karena itu guru hendaknya menyajikan  materi  pembelajaran secara bervariasi sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.
Berasumsi dari uraian di atas, penulis menggali permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas I. Sebagaimana  sesuai dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) bahwa proses pembelajaran di kelas I menggunakan pendekatan tematik. Yaitu menggabungkan beberapa mata pelajaran dalam satu tema sentral. Permasalahan yang muncul dalam setiap pelaksanaan pembelajaran baik karena kekurangan dari kemampuan guru, maupun strategi pembelajaran yang telah disusun tidak dilaksanakan secara konsisten. Fakta telah menunjukkan rendahnya nilai evaluasi sehingga proses pembelajaran  dapat dikatakan belum berhasil.
  Hasil penilaian tersebut membuat resah penulis karena dikawatirkan akan mempengaruhi pelajaran yang lain. Setelah melakukan refleksi tentang pelaksanaan pembelajaran timbul berbagai pertanyaan akibat rendahnya hasil penilaian sebagai identifikasi permasalahan, yaitu:
1.      Mengapa siswa kelas I belum memahami materi pembelajaran, sedangkan upaya guru sudah maksimal dalam menyampaikan pembelajaran?
2.      Apakah metode yang diterapkan dalam pembelajaran tidak tepat?
3.      Apakah pengelolaan kelas tidak dilakukan dengan baik?
4.      Apakah guru tidak memberikan contoh cara membaca puisi yang baik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul dan merupakan pertanyaan yang harus dicari jalan keluarnya. Apakah kelemahan terjadi karena guru yang tidak melaksanakan proses pembelajaran dengan baik atau siswa yang tidak memperhatikan guru, atau mungkin ada penyebab yang lain. Setelah melakukan diskusi dengan guru senior dan kepala sekolah, dari hasil refleksi dapat diketahui bahwa rendahnya nilai pembelajaran dengan menggunakan pendekatan tematik adalah sebagai berikut:
1.      Rendahnya nilai .akhir pembelajaran terjadi karena guru tidak mengelola kelas dengan baik, hal ini karena keterampilan mengelola kelas tidak dikembangkan dengan baik.
2.      Proses pembelajaran akan berjalan dengan baik dan menghasilkan nilai yang maksimal harus menggunakan metode yang melibatkan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran.
3.      Sesuai dengan karakteristik siswa kelas I, maka contoh konkret harus dikembangkan oleh guru agar siswa dapat memahami secara langsung cara membaca  puisi yang baik dan benar.
4.      Metode pembelajaran yang dikembangkan untuk memperbaiki kelemahan pembelajaran harus dapat dipadukan dengan pendekatan tematik.
Selanjutnya dari paparan identifikasi permasalahan tersebut, permasalahan yang teridentifikasi di atas dan menjadi fokus perbaikan yaitu mengubah pendekatan pembelajaran dengan menggunakan metode Resitasi (Penugasan) untuk dipadukan dengan pendekatan tematik, hal ini sejalan dengan karakteristik siswa kelas I, yaitu memiliki pola befikir konkret.

B.   Perumusan Masalah dan Pemecahan Masalah
1.   Rumusan Masalah
                 Melalui Penelitian Pendidikan (PTK) maka rumusan masalah yang dapat dikembangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.       Apakah penggunaan metode Resitasi (Penugasan) dapat meningkatkan pemahaman materi  pembelajaran dengan pendekatan tematik di kelas I SD Negeri Gadel III Kecamatan Tukdana Kabupaten Indramayu?
b.      Bagaimanakah cara penggunaan  metode Resitasi (Penugasan) untuk meningkatkan pemahaman materi  pembelajaran dengan pendekatan tematik di kelas I SD Negeri Gadel III Kecamatan Tukdana Kabupaten Indramayu?
c.      Sejauhmana pengaruh aplikasi metode resitasi dalam meningkatkan pemahaman siswa pada materi pembelajaran dengan pendekatan tematik di kelas I SD Negeri Gadel III Kecamatan Tukdana Kabupaten Indramayu?

2.   Upaya Pemecahan Masalah
                 Berdasarkan identifikasi masalah, rumusan masalah, maka penulis berupaya mengambil beberapa langkah penyelesaian masalah dengan memfokuskan penggunaan metode Resitasi (Penugasan) dalam proses perbaikan pembelajaran. Penggunaan metode Resitasi (Penugasan) berdasarkan beberapa pertimbangan sebagai berikut:
a.       Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari suatu konsep pembelajaran secara langsung dengan memahami konsep suatu materi pelajaran.
b.      Mengembangkan sifat kreatif siswa karena menimbulkan gairah belajar, memungkinkan interaksi yang berlangsung antara siswa dan lingkungannya, mungkin anak belajar sendiri sesuai dengan kemampuannya.
c.      Metode Resitasi (Penugasan) membuat suasana kelas dapat terkendali karena perhatian siswa lebih terfokus.
d.      Metode Resitasi (penugasan) dapat dikombinasikan dengan tematik.
C.   Tujuan Penelitian
            Berdasarkan uraian latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari proposal Penelitian Tindakan Kelas dapat penulis rumuskan sebagai berikut:
1.   Tujuan Umum
       Memperbaiki kualitas belajar sebagai sarana untuk meningkatkan sumber daya manusia melalui kegiatan pembelajaran yang merancang keaktifan siswa.
2.   Tujuan  Khusus
a.    Mendeskripsikan bagaimana cara penggunaan  metode Resitasi (Penugasan) untuk meningkatkan pemahaman materi pembelajaran dengan pendekatan tematik di kelas I SD Negeri Gadel III Kecamatan Tukdana Kabupaten Indramayu.
b.    Mengetahui sejauhmana analisis efektivitas  metode Resitasi (Penugasan) untuk meningkatkan pemahaman materi  pembelajaran dengan pendekatan tematik di kelas I SD Negeri Gadel III Kecamatan Tukdana Kabupaten Indramayu?

F.   Manfaaat Hasil Penelitian
            Melalui Penelitian Tindakan Kelas, diharapkan penelitian perbaikan pembelajaran dengan menggunakan metode Resitasi (Penugasan) dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan. Namun demikian penulis uraikan manfaat penelitian tindakan kelas secara spesifik adalah sebagai berikut:
1.  Bagi Guru
 Manfaat penelitian bagi guru adalah sebagai berikut:
a.       Memberikan peluang pada guru  untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah.
b.      Meningkatkan minat siswa dalam belajar karena proses pembelajaran lebih menarik dan terfokus.
c.      Mempermudah dalam penyampaian materi pelajaran karena konsep tentang materi pelajaran akan terbina melalui tugas langsung kepada siswa.
d.      Meningkatkan profesionalitas guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar sebagai salah satu titik tolak keberhasilan pembelajaran.
2.   Bagi Siswa
a.    Memberikan kesempatan pada siswa untuk memahami pelajaran dengan interaksi secara aktif  dengan guru.
b.    Menolong siswa agar lebih mudah memahami materi/isi pelajaran dengan baik.
c.    Mengembangkan sifat kreatif siswa karena menimbulkan gairah belajar, memungkinkan interaksi yang berlangsung antara siswa dan lingkungannya, memungkinkan anak belajar sendiri sesuai dengan kemampuannya.
d.    Memberikan situasi yang wajar untuk belajar membangkitkan minat perhatian, aktivitas, dan turut serta dalam berbagai kegiatan di kelas
3.   Bagi Sekolah
a. Mengetahui tingkat keberhasilan suatu proses pembelajaran dengan menerapkan Penelitian Tindakan Kelas.
b.  Sebagai bahan pertimbangan untuk mencari solusi pengelolaan sekolah dalam meningkatkan prestasi siswa.
c.  Sebagai input lembaga dalam penyelesaian permasalahan belajar pada peserta didik.

BAB II
KAJIAN TEORI

A.  Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
1.  Hakikat Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946. Inti gagasan Lewin inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin McTaggart, John Elliot, Dave Ebbutt, dan sebagainya. PTK di Indonesia baru dikenal pada akhir dekade 80-an. Oleh karenanya, sampai dewasa ini keberadaannya sebagai salah satu jenis penelitian masih sering menjadikan pro dan kontra, terutama jika dikaitkan dengan bobot keilmiahannya.
Jenis penelitian ini dapat dilakukan didalam bidang pengembangan organisasi, manejemen, kesehatan atau kedokteran, pendidikan, dan sebagainya. Di dalam bidang pendidikan penelitian ini dapat dilakukan pada skala makro ataupun mikro. Dalam skala mikro misalnya dilakukan di dalam kelas pada waktu berlangsungnya suatu kegiatan belajar-mengajar untuk suatu pokok bahasan tertentu pada suatu mata kuliah. Untuk lebih detailnya berikut ini akan dikemukan mengenai hakikat PTK.
Beberapa pengertian tentang Penelitian Tindakan Kelas penulis paparkan menurut beberapa ahli, yaitu:
a.         Menurut John Elliot bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya (Elliot, 1982).
Ditambahkan juga bahwa Seluruh prosesnya, telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengaruh menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dari perkembangan profesional. Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart, yang mengatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta–pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Taggart, 1988).
b.        Menurut Carr dan Kemmis seperti yang dikutip oleh Siswojo Hardjodipuro, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah PTK adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan (guru, siswa atau kepala sekolah) dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran (a) praktik-praktik sosial atau pendidikan yang dilakukan dilakukan sendiri, (b) pengertian mengenai praktik-praktik ini, dan (c) situasi-situasi (dan lembaga-lembaga) tempat praktik-praktik tersebut dilaksanakan (Harjodipuro, 1997).
 Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, maka penulis menggarisbawahi bahwa PTK adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut dan agar mau untuk mengubahnya. PTK bukan sekedar mengajar, PTK mempunyai makna sadar dan kritis terhadap mengajar, dan menggunakan kesadaran kritis terhadap dirinya sendiri untuk bersiap terhadap proses perubahan dan perbaikan proses pembelajaran. PTK mendorong guru untuk berani bertindak dan berpikir kritis dalam mengembangkan teori dan rasional bagi mereka sendiri, dan bertanggung jawab mengenai pelaksanaan tugasnya secara profesional.
Dengan dilaksanakannya PTK, berarti guru juga berkedudukan sebagai peneliti, yang senantiasa bersedia meningkatkan kualitas kemampuan mengajarnya. Upaya peningkatan kualitas tersebut diharapkan dilakukan secara sistematis, realities, dan rasional, yang disertai dengan meneliti semua “ aksinya di depan kelas sehingga guru lah yang tahu persis kekurangan-kekurangan dan kelebihannya. Apabila di dalam pelaksanaan “aksi” nya masih terdapat kekurangan, dia akan bersedia mengadakan perubahan sehingga di dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya tidak terjadi permasahan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar-mengajar, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Sementara itu, dilaksanakannya PTK di antaranya untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau pangajaran yang diselenggarakan oleh guru/pengajar-peneliti itu sendiri, yang dampaknya diharapkan tidak ada lagi permasalahan yang mengganjal di kelas.

b.    Perbedaan Penelitian Tindakan Kelas dengan Penelitian Formal
            Penelitian Tindakan Kelas berbeda dengan penelitian pada umunya. Perbedaan utama terletak pada konsep penelitian. Berikut ini penulis paparkan beberapa perbedaan penelitian tindakan kelas dengan penelitian pada umumnya atau penelitian formal.








PERBEDAAN KARAKTERISTIK PTK
DENGAN PENLITIAN FORMAL

NO
DIMENSI
PTK
PENELITIAN FORMAL
1.
Motivasi
Tindakan
Kebenaran
2.
Sumber  Masalah
Diagnosis status
Induktif – deduktif
3.
Tujuan
Memperbaiki praktik sekarang dan di sini
Verifikasi dan menemukan pengetahuan yang dapat digeneralisasikan
4.
Peneliti yang terlibat
Pelaku dari dalam (guru)
Orang luar yang berminat
5.
Sampel
Kasusu khusus
Sampel yang representatif
6.
Metodologi
Longgar tetapi berusaha objektif-jujur tidak memihak (impartiality)
Baku dengan obyektivitas dan dan ketidakmemihakan yang teriintegrasi
7.
Penafsiran hasil penelitian
Untuk memahami praktik melalui refleksi oleh praktisi yang membangun
Mendeskrispsikan, mengapbstraksi, serta menyimpulkan dan membentuk teori oleh ilmuan
8.
Hasil akhir
Siswa belajar lebih baik
Pengetahuan, prosedur atau materi yang teruji.

(IGAK Wardani, 2007: 1.10)
B.   Pembelajaran
1.   Pengertian
Hakikat pembelajaran tidak terlepas dari apa yang disebut belajar, beberapa ahli memberikan batasan tentang pengertian belajar, di antaranya;  Skinner dalam Wahyudin (2006: 3.31), “Belajar adalah berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman”. Pengertian lain juga dikemukakan oleh Singer (1968) dalam Supandi dan Seba (1986: 1) bahwa, “Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif tetap disebabkan praktek atau pengalaman lampau dalam situasi tertentu”.
            Berdasarkan pengertian yang dikemukakan di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa pada hakekatnya belajar adalah usaha yang dilakukan dengan sengaja untuk memeperoleh perubahan tingkah laku yang diinginkan.  Sejalan dengan hal tesebut, Hamalik (1995) dalam Wahyudin (2006: 3.33) menjelaskan tiga ciri khas dalam pembelajaran sebagai berikut:
a.  Rencana, ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur yang merupakan unsur sistim pembelajaran dalam suatu rencana khusus.
b.  Saling ketergantungan (interdependence) antara  unsur sistem pembelajaran yang sersi dalm suatu keseluruhan. Tiap unsur  bersifat esensial, dan masing-masing memberi sumbangannya kepada sistem pembelajaran.
c.  Tujuan, pembelajaran memiliki tujuan tertentu yang hendak dicapai.

            Penelitian ini membahas disiplin ilmu dalam bidang mata pelajaran di Sekolah Dasar, maka dalam konteks pembahasan yaitu pembelajaran dalam wujud pemahaman materi pembelajaran siswa sekolah dasar.  Proses pola berfikir peserta didik harus dikuasai oleh guru-guru dalam proses belajar mengajar.  Menurut  Pitts dan Posner dalam Warganegara (1994: 19) belajar terdiri dari tiga tahapan yaitu:
1.   Tahap Kognisi
       Dalam tahap ini pembelajaran  lebih diarahkan pada pola pamahaman yang dipelajari  dalam sistem otak, sehingga kemampuan persepsi seseorang tentang suatu input dipengaruhi oleh kualitas dan kejelasan obyek  input.
2.   Tahap  Latihan
Prinsip belajar pada tahap ini adalah perealisasian rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah terbentuk dalam sistem memori. Cepat lambatnya seseorang dalam melakukan proses pemahaman  tergantung pada kemampuan dasar yang dimiliki.
3.   Tahap Otomatisasi
Prinsip dalam tahap ini adalah subyek  telah memahami konsep keilmuan  dengan keterampilan yang sempurna, tingkat koordinasi telah tercapai dengan baik.

            Berdasarkan uraian di atas, menjadi keharusan guru-guru di sekolah dasar dalam proses pembelajaran harus mampu menganalisa secara komponen dari rangkaian pola pemahaman pola pikir sehingga pembelajaran harus mencerminkan proses dari masing-masing tahap pembelajaran.

2.  Ciri-Ciri Belajar
            Beberpa ahli mengemukakan istilah dan pengertian yang beragam tentang belajar, yang pada prinsipnya merupakan proses psikologis, yaitu perubahan tingkah laku yang berupa pengetahuan, sikap,  ataupun keterampilan yang terjadi pada diri  peserta didik.
Menurut Gagne dalam Laurens Seba (1989) disebutkan bahwa ciri belajar  yang harus dikuasai oleh peserta didik adalah:
1)     Informasi verbal berupa kemampuan mengungkapkan pengetahuan melalui bahasa.
2)     Ketermpilan Intelektual yaitu kecakapan yang berfungsi untuk berinteraksi dengan lingukungan.
3)     Strategi kognitif yaitu kemampuan strategis dalam menggunakan konsep, kaidah, ataupun teori guna pemecahan masalah yang dihadapi.
4)     Keterampilan motorik berupa kemampuan untuk melakukan ragam kegiatan yang bersifat fisik satau jasmani.
5)     Sikap, yaitu direfleksikan dalam kemampuan menerima atau menolak suatu obyek berdasarkan kriteria penilaian yang dilakukan.

C.   Metode Resitasi (Penugasan)
1.  Pengertian
            Dalam pedoman pelaksanaan  Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun 2006 disebutkan bahwa salah satu metode yang dapat dikembangkan dalam pelaksanaan pembelajaran yaitu metode resitasi atau penugasan. Prinsip dari metode ini yaitu guru memberikan tugas kepada siswa  untuk diselesaikan dan dipertanggungjawabkan. Dalam konteks pembelajaran, tugas yang diberikan kepada siswa dapat dikerjakan di sekolah atau di rumah, selain itu teknik pelaksanaan tugas dapat dilakukan secara individu atau kelompok.

2.  Rambu-rambu Pelaksanaan Metode Resitasi
            Dalam mengaplikasikan metode resitasi atau penugasan, beberapa hal yang harus diperhatikan apabila menggunakan metode ini penulis paparkan sebagai berikut:
1)     Materi pelajaran merupakan materi pelajaran yang memerlukan latihan yang lebih banyak dan dapat dilakukan di luar jam pelajaran.
2)     Ruang lingkup pelajaran luas sedangkan waktu yang tersedia terbatas.
3)     Karena seuatu hal, guru dapat oleh guru lain menggantikannya.
4)     Materi pelajaran memelukan pendalaman melalui latihan mandiri.
Namun demikian, beberapa hal harus mendapat perhatian dalam pelaksanaan metode resitasi (penugasan) adalah; 1) jangan memberikan tugas kepada siswa tentang materi pelajaran yang belum dikuasai, 2) tugas yang diberikan mempunyai batas yang jelas

D.  Konsep Pembelajaran Tematik
1.   Pengertian
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat  memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada peserta didik. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi topik pembelajaran. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar, konsep belajar dan pembelajaran bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi anak kelas awal SD sebaiknya dilakukan dengan Pembelajaran tematik.
Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983).
Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:
a)      Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
b)     Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama;
c)     Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
d)     Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;
e)     Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;
f)      Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;
g)     Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.

2.   Karakteristik Pembelajaran Tematik
            Proses pembelajaran akan berhasil dengan baik apabila guru merancang rencana pembelajaran dengan baik juga memperhatikan  aspek siswa yang akan menerima dan melakukan kegiatan pembelajaran. Agar proses pembelajaran lebih bermakna, guru harus memahami karakteristik dari pembelajaran temarik yaitu:
1)   Berpusat pada siswa
2)   Memberikan pengalaman langsung pada siswa
3)   Pemisahan mata pelajaran tidak terlihat jelas
4) Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam proses pembelajaran
5)   Bersifat fleksibel
6)    Hasil belajar berkaitan dengan kebutuhan dan sesuai dengan perkembangan siswa (BSNP, 2006)
            Menurut BSNP juga disebutkan bahwa pendekatan tematik mempunyai keunggulan atau kelebihan jika dibandingkan dengan teknik pendekatan yang lain. Sedangkan kelebihan pembelajaran tematik adalah:
1)    Kegiatan dan pengalaman beajar siswa sesuai dengan perkembangannya.
2)    Kegiatan yang dipilih untu beajar siswa sesuai dan bertolaj dari minat dan kebutuhan siswa
3)           Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna sehingga hasil belajar akan bertahan lebih lama
4)    Menumbuhkembangkan keterampilan berpikir, berkomunikasi, memecahkan masalah, keneksitas, dan keterampilan sosial.
5)   Bersifat pragmatis.

            Dalam merancang rencana pembelajaran, guru memilih tema yang hendak dipakai dalam pembelajaran, dimana tema tersebut dikaitkan dengan konsep-konsep dalam bidang studi yang lain. Misalnya; tema yang dipilih tentang “diri sendiri” yang akan dipadukan pada mata pelajaran matematika, bahasa Indonesia, SBK. Dalam pelaksanaannya, guru mengkondisikan berbagai bidang studi tadi dalam satu tema sentral, sehingga skenario pembelajaran juga memuat standar komtensi, kompetensi dasar, indikator, dan tujuan pembelajaran mata pelajaran yang terkait dalam satu tema tersebut. Langkah awal dalam pembelajaran tematik yaitu guru membuat jaringan tema untuk memudahkan dalam mengkondisikan materi pelajaran dan mempermudah dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Berikut ini ilustrasikan contoh jaringan tema sebagai berikut:


JARINGAN TEMA
ANTAR BIDANG STUDI
Oval: Menjumlahkan dua bilangan dengan tanpa menympan
Memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan


















BAB III
METODE PENELITIAN


A.   Setting Penelitian
            Penelitian ini merupakan tindakan perbaikan terhadap berbagai kelemahan yang ditemui dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas. Oleh karena itu, untuk mempermudah dalam pengorganisasian dan hasil akhir dari proses penelitian dapat langsung dirasakan oleh siswa. Uraian lengkap tentang subyek penelitian adalah sebagai berikut:
SUBYEK PENELITIAN
NO
SUBYEK PENELITIAN
KETERANGAN
1.
Lokasi
SD Negeri Gadel III
Kecamatan Tukdana
Kabupaten Indramayu
2.
Waktu
Siklus I   15 Agustus 2011
Siklus II  29 Agustus 2011
3.
Kelas
I (satu)
4.
Tema
Diri sendiri

            Perlu juga penulis uraikan karakteristik siswa kelas I (7-8 tahun) agar konsep tentang pembahasan Penelitian Tindakan Kelas dapat terarah sesai dengan perkembangan anak. Bruner (Ruseffendi, 1990: 36) mengemukakan bahwa dalam proses belajar siswa melewati 3 tahapan yaitu:
a.   Tahapan Enaktif.
Tahapan ini untuk pertama kalinya siswa belajar konsep yang berhubungan dengan benda-benda konkrit dan secara langsung terlibat dalam manipulatif obyek.
b.    Tahap Ikonik
       Dalam tahap ini kegiatan yang dilakukan siswa berhubungan dengan mental, yang merupakan gambaran dari obyek-obyek yang dimanipulasinya.
c.     Tahap Simbolik
       Dalam tahap ini siswa memanipulasi simbol-simbol atau lamabang obyek tertentu. Siswa pada tahap ini sudah mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap obyek reil.
     Sedangkan teori yang dikembangkan oleh Jean Piaget, (Ruseffendi, 1990:36) yaitu penekanannya pada kesiapan anak dalam belajar yang harus disesuaikan dengan perkembangan anak.
Ada empat tahapan yang dilewati anak dalam belajar;
1.   Tahap sensori motorik (lahir – 2 tahun)
2.   Tahap pra opersi ( 2 tahun – 7 tahun)
3.   Tahap opersina konkrit (7 tahun – 11 tahun)
4.   Tahap operasi formal (11 tahun – dewasa)

            Dengan  menunjuk pendapat yang dikemukakan oleh Jean Peaget usia kelas I SD ada pada tahap operasi konkrit, yaitu siswa akan lebih berhasil dalam belajarnya apabila siswa telah siap melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian guru  kelas I harus mampu mengembangkan dan mengkondisikan psikologis siswa agar siap mengikuti pelajaran dengan berbagai kegiatan yang menarik perhatian siswa.

2.   Prosedur Pelaksanaan PTK
            Dalam melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas beberapa kegiatan yang dilakukan penulis adalah
a.      Persiapan
Kegiatan persiapan menjadi kegiatan yang mutlak dilakukan, karena tanpa persiapan yang baik maka kegiatan penelitian tidak akan berjalan sesuai dengan perencanaan. Kegiatan perencanaan dapat penulis uraikan sebagai berikut:
1)       Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran beserta dengan skenario tindakan yang dilaksanakan.
2)       Menyiapkan sarana dan sarana pendukung yang diperlukan, misalnya alat peraga, gambar-gambar dll.
3)       Menyiapkan perangkat pengumpulan  data untuk diolah menjadi data hasil penelitian.
4)       Memantapkan keyakinan diri.

b.   Pelaksanaan Program Perbaikan Pembelajaran
Pelaksanaan perogram dilakukan dengan mengacu jadwal pelajaran yang sedang berjalan dengan mempertimbangkan berbagai hal, di antaranya:
1)       Kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran
2)       Kesiapan supervisor sebagai guru pendamping

3.   Pengumpulan Data
     Kegiatan pengumpulan data merupakan kegiatan yang mendasar karena dapat dijadikan  acuan dalam menentukan keberhasilan perbaikan pembelajaran Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran maka diadakan penilaian setelah proses pembelajaran selesai. Melalui lembar penilaian dapat dilihat tingkat  penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
Instrumen lain yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah lembar observasi yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa selama mengikuti pelajaran. Selain itu, lembar observasi juga dilakukan oleh rekan guru atau kepala sekolah tentang pelaksanaan pembelajaran.

4.   Indikator Kinerja
Kriteria keberhasilan tujuan pembelajaran atau tolok ukur ditentukan dari hasil analisis, evaluasi, serta analisis hasil observasi, wawancara yang menunujukkan hasil penilaian di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) kelas I untuk bidang studi yang di-tema-kan dalam proses pembelajaran.
Adapun langkah yang dikembangkan peneliti yaitu dengan Analisis Data untuk Pengujian Hipotesis. Analisis data dilakukan dengan cara membandingkan transkip setiap instrumen, hasil kerja siswa. Dengan melakukan analisis terhadap hasil penilaian akan diketahui tingkat progresivitas hasil penilaian dari siklus 1 dan siklus 2. Sehingga analisis nilai dapat dijadikan patokan apakah perbaikan pembelajaran yang telah dilakukan dapat berhasil atau belum.
Teknik analisis data kualitatif dengan prosentase dan analisis data kuantiatif dengan mencari rata-rata ( )
 =
    =  rata-rata hitung
n    ­  =   banyak sample
fi.xi =    hasil perkalian skor dengan frekuensi skor yang bersangkutan


5.    Jadwal Penelitian
            Sesuai dengan perencanaan yang telah diuraikan terdahulu bahwa pelaksanaan penelitian terdiri dari dua kali pertemuan yaitu siklus I dan siklus II. Adapun jadwal selengkapnya penulis uraikan dalam lampiran proposa Penelitian Tindakan Kelas ini.

6.  Lampiran
1.  Instrumen pengamatan keaktifan siswa selama proses pembelajaran
KRITERIA
JUMLAH SISWA
SISWA AKTIF
SISWA TIDAK AKTIF
% AKTIF
% TIDAK AKTIF


Diskusi Kelompok






Mengajukan Pertanyaan






Menjawab  Pertanyaan










2.  Lembar Penilaian
NO
NAMA SISWA
NILAI SIKLUS KE-
1.


2.


.


.


.


.


dst





Jumlah Nilai

Rata-rata


3. Lembar Observasi
LEMBAR OBSERVASI
Mata Pelajaran                :   ……………………………….
Nama Peneliti                  :   ……………………………….
Tempat mengajar             :   ……………………………….
Kelas/semester                :   ……………………………….
Hari Tanggal                    :   ……………………………….
Nama Observer               :   ……………………………….  
Fokus Observasi             :   ……………………………….
                                           ……………………………….

NO
ASPEK YANG DIOBSERVASI
KEMUNCULAN
REFLEKSI
ADA
TIDAK
1.
Mengkondisikan siswa untuk siap mengikuti pelajaran



2.
Melaksanakan tujuan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran sesuai rencana


3.
Menggunakan alat bantu dan media yang tepat


4.
Melaksanakan pembelajaran dengan urutan yang logis


5.
Mengelola waktu pembelajaran secara efisien


6.
Menangani pertanyaan dan respon siswa, memicu dan memlihara ketertiban dalam proses pembelajaran


7.
Memantapkan penguasaan materi pelajaran


8.
Menjelaskan materi pelajaran kepada siswa


                                                                    
                                                                                       Guru Senior      
                                                                                    ………………….                                                     
DAFTAR PUSTAKA

Andayani,dkk. (2008), Pemantapan Kemampuan Profesional, Jakarta:  Universitas Terbuka

Asep Herry Hernawan, (2007). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Universitas Terbuka

BNSP, (2006) Badan Standar Nasional Pendidikan, Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional

Dahlan Al Hasan, (2007).  KTSP dan Contectual Learning(CTL), Bandung: Rineka Karya.

Depdikbud, (1999). Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar Kelas II, Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar

----------------- (2006), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional

Dinn Wahyudin, (2007). Pengantar  Pendidikan, Jakarta: Universitas Terbuka.
GBPP SD KTSP (2008), Ilmu Pengetahuan Alam Kelas VI, Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar

----------------------------, Bahasa Indonesia Kelas VI, Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar

Hamalik, (1995), Perkembangan Anak, Jakarta:Depdikbud.

Surakhmad, Winarno,  (2002). Metodologi Penelitian, Yogyakarta: FKIP

Wardhani, IGAK ,  (2008). Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Universitas Terbuka

 
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

                                    Tema                           :   Diri sendiri
                                    Mata Pelajaran           :   Bahasa Indonesia
                                                                            Matematika
                                                                            SBK
                                    Kelas                          :   I  (satu) / I (satu)
                                    Waktu                         :   1 x 35 menit

I.    Standar Kompetensi
       Bahasa Indonesia
Memahami teks pendek dengan membaca nyaring 
       Matematika
       Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan.
       SBK
       Menggambar ekspresi dengan berbagai motif.
II.   Kompetensi Dasar
       Bahasa Indonesia
      Membaca nyaring suku kata dan kata dengan lafal yang tepat
       Membaca nyaring kalimat  sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat
Matematika
       Menjumlahkan dua bilangan dengan tanpa menyimpan
       Memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan.
       SBK                    
       Membuat karya gambar ekspresi dengan berbagai motif.
III. Indikator
-         Menyebutkan menyebutkan nama-nama bagian anggota tubuh
-         Menjumlahkan dua bilangan tanpa menyimpan dengan menggunakan soal cerita
-         Menggambar ekspresi dengan berbagai motif.
IV.  Tujuan Pembelajaran
       Setelah proses pembelajaran, diharapkan siswa dapat:
-       Membaca nama-nama anggota tubuh  dengan baik dan benar
-       Menghitung jumlah anggota tubuh dengan menggunakan kalimat matematika
-       Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari dengan penjulahan tanpa teknik menyimpan.
-       Menggambar ekspresive berbagai motif.

V.   Materi Pelajaran
       Bahasa Indonesia
       Nama-nama bagian anggota tubuh
       Matematika
       Menjumlahkan dua bilangan tanpa menyimpan
       SBK
       Menggambar ekspresi dengan berbagai motif
VI.  Metode Pembelajaran
       Demonstrasi, tanya jawab, ceramah, latihan, manipulasi obyek
VII. Langkah-langkah Pembelajaran
       A.   Kegitan Awal
-       Guru mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pelajaran dengan melakukan appersepsi yaitu dengan menyanyikan lagu “Dua Mata Saya
-       Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu membaca, menjumlah dan nama anggota tubuh.
       B.   Kegiatan Inti
            Eksplorasi
-       Guru menempelkan gambar anak yang berdiri tegap dengan berpakaian seragam lengkap, kemudian menjelaskan nama-nama anggota tubuh.
-       Siswa memperhatikan penjelasan dari guru.
Elaborasi
-       Guru membagikan lembar kerja siswa
-       Dengan bimbingan guru siswa mengerjakan lembar kerja sesuai dengan kelompok termpat duduk, guru selalu mengawasi pelaksanaan pengerjaan lembar kerja.
Konfirmasi
-       Siswa dengan bimbingan guru membahas hasil pengerjaan lembar kerja di depan kelas, siswa yang lain memberikan komentar.
-       Guru memberikan koreksi terhadap kesalahan siswa.
-       Untuk memperkuat konsep, guru mengadakan tanya jawab tentang materi pembelajaran
       C.   Kegiatan Akhir
-       Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan tentang materi pelajaran yang belum dikuasai
-       Melaksanakan refleksi tentang pelaksanaan proses belajar mengajar.
-       Guru mengadakan evaluasi untuk menguasai tingkat penguasaan materi pelajaran.
VII. Alat dan Sumber Bahan
       1.  Alat
-         Gambar anggota tubuh
-         Kartu penjumlahan dengan gambar
       2.  Sumber Belajar
             -   Buku Matematika Kelas I. BSE
             -   Buku Belajar Bahasa Indonesia itu Menyenangkan. BSE
             -   Buku Matematika Kelas I. BSE
IX.  Penilaian
        Prosedur             :   Tes Akhir
        Jenis Tes            :   Lisan
        Bentuk tes          :   tertulis dan performance tes
       a.  Bacalah dengan nyaring
            k e p a l a           m a t a                    k a k i             j a r i
       b.  Pasangkan kartu-kartu huruf ini
       c.  Coba kamu hitung berapa jumlah hurufnya!
             k e p a l a      =  …….           m a t a           =  …….          k a k i            =  …….
             j a r i              =  …….
                                                                                   
       Mengethaui
Kepala SDN Gadel III


......................................
NIP 19580912 198206 1 004
Guru Kelas I



......................................
nipNIP198204 2 005


LEMBAR KERJA
Sebutkan nama anggota badan dalam gambar ini!
                      
   

              Berdasarkan ilustrasi di atas menggambarkan bahwa:
1.      Mata pelajaran Matematika  standar kompetensinya adalah Menjumlahkan dua bilangan dengan tanpa menyimpan, dan memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan.
2.      Mata pelajaran Bahasa Indonesia standar kompetensinya adalah menyebutkan ciri-vciri fisik benda di sekitar (nama, bentuk, warna) dengan menggunakan kalimat sederhana
3.      Mata pelajaran SBK standar kompetensinya adalah membuat karya gambar eksprei dengan berbagai motif.

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Poskan Komentar

Buat sobat blogger anda tulis komentar disini,angdidi tulis komentar disana tapi yang sopan ya!!!angdidi yakin anda adalah blogger yang baik matur kesuwun...