postingan terbaru

Loading

Jumat, 30 September 2011

Tujuh Imam Qira-ah

Di antara para qurra’ kelompok ketiga yang paling banyak dikenal adalah tujuh orang imam qira-ah. Mereka ini menjadi rujukan dalam ilmu qira-ah dan mengalahkan imam-imam yang lain. Dari masing-masing tujuh imam itu dikenal dua orang perawi di antara sekian banyak perawi yang tidak bisa dihitung jumlah­nya. Nama-nama tujuh imam dan dua orang perawinya itu adalah sebagai berikut:
  1. Ibnu Katsir dari Makkah.18) Dua orang perawinya adalah Qanbul dan Bizzi yang meriwayatkan qira-ah darinya melalui se­orang perantara.
  2. Nafi' dari Madinah.19) Dua orang perawinya adalah Qalun dan Warasy.
  3. Ashim dari Kufah.20) Dua orang perawinya adalah Abu Bakar Syu'bah bin al-'Iyasy dan Hafs. Al-Quran yang ada di kalangan kaum Muslimin dewasa ini adalah memakai qira-ah Ashim yang diriwayatkan oleh Hafs.
  4. Hamzah dari Kufah.21) Dua orang perawinya adalah Khalf dan Khatlad yang meriwayatkan qira-ah darinya melalui satu perantara.
  5. Al-Kisa'i dari Kufah.22) Dua orang perawinya adalah Dauri dan Abul Harits.
  6. Abu Amr bin al-'Ala' dari Basrah.23) Dua orang perawinya ada­lah Dauri dan Sausi yang meriwayatkan qira-ah darinya melalui seorang perantara.
  7. Ibnu 'Amir.24) Dua orang perawinya adalah Hisyam dan Ibnu Zakwan yang meriwayatkan melalui satu perantara.25)
Kemasyhuran qira-ah sab’ah (tujuh qira-ah yang diriwayatkan dari tujuh imam qira-ah di atas) diiringi oleh tiga qira-ah lain yang diriwayatkan dari Abu Ja'far, Ya'kub dan Khalaf.26)
Ada beberapa qira-ah lain yang tidak terkenal, seperti qira-ah yang disebutkan sebagai berasal dari sebagian sahabat, qira-ah syadz (tidak populer) yang tidak boleh diamalkan, serta qira-ah - qira-ah yang terpencar-pencar yang dijumpai dalam beberapa hadis yang diriwayatkan dari para Imam Ahlul Bait. Mereka ini meme­rintahkan kepada pengikut-pengikutnya untuk mengikuti qira-ah yang terkenal itu.
Mayoritas ulama Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa tujuh qira-ah di atas diriwayatkan secara mutawatir, sehingga sabda pada Nabi, "Al-Quran diturunkan dengan memakai tujuh huruf, 27) ditafsirkan oleh sebagian mereka sebagai diturunkan dengan me­makai tujuh qira-ah itu. Sebagian ulama Syi'ah juga condong kepada pendapat ini. Akan tetapi sebagian ulama menegaskan bahwa qira-ah-qira-ah yang terkenal itu tidak diriwayatkan secara mutawatir, Dalam al-Burhan, az-Zarkasyi menyatakan bahwa, menurut penyelidikan ilmiah, qira-ah- qira-ah itu memang diriwa­yatkan secara mutawatir dari tujuh imam itu. Akan tetapi diragukan, apakah ia diriwayatkan secara mutawatir dari Nabi Muham­mad s.a.w. Sanad tujuh qira-ah itu memang terdapat dalam buku­buku qira-ah dan merupakan periwayatan seorang perawi dari seorang perawi yang lain.28)
Makki menyatakan, "Sungguh salah bila orang menganggap bahwa qira-ah para qura , seperti Nafi' dan 'Ashim, itu adalah tujuh huruf yang disebutkan dalam hadis Nabi (di atas)." Selanjut­nya ia menyatakan, "Anggapan ini membawa konsekuensi bahwa qira-ah di luar qira-ah tujuh imam itu, yang telah pasti diriwayat­kan dari imam-imam selain mereka dan sesuai dengan tulisan mus­haf, bukan merupakan Al-Quran. Ini merupakan kesalahan yang besar, sebab ahli-ahli qira-ah terdahulu yang menyusun buku-buku tentang qira-ah qira-ah AI-Quran, seperti Abu 'Ubaid al-Qasim bin Salam, Abu Hatim as-Sijistani, Abu Ja'far ath-Thabari dan Ismail al-Qadhi menyebutkan qira-ah- qira-ah yang jumlahnya beberapa lipat dari jumlah tujuh qira-ah itu.
Orang ramai pada awal tahun dua ratusan Hijrah di Basrah tertarik kepada qira-ah Abu Amr dan Ya'kub, di Kufah kepada Hamzah dan 'Ashim, di Suriah kepada Ibnu 'Amir, di Makkah kepada Ibnu Katsir, dan di Madinah kepada qira-ah Nafi'. Hal ini berlanjut terus. Kemudian di awal tahun tiga ratusan Hijrah, Ibnu Mujahid menetapkan nama Kisa'i dan membuang nama Ya'kub.
Makki menyatakan bahwa sebab diadakannya pembatasan pada tujuh qira-ah imam itu - padahal jumlah para imam qira-ah yang lebih berbobot, atau sama bobotnya dengan mereka, lebih banyak - adalah karena para perawi dari imam-imam itu banyak sekali. Maka setelah minat orang mulai berkurang, para perawi membatasi diri hanya pada qira-ah yang sesuai dengan mus-haf yang mudah dihapal dan benar untuk membaca Al-Quran. Mereka meneliti orang yang dikenal dapat dipercaya, jujur, lama menekuni qira-ah dan disepakati untuk dijadikan rujukan dalam qira-ah. Kemudian mereka memilih satu orang imam dari tiap-tiap daerah. Di samping itu mereka tidak meninggalkan periwayatan qira-ah yang diajarkan oleh selain tujuh imam qira-ah tersebut di atas, dan tidak meninggalkan pembacaan Al-Quran dengan qira-ah mereka itu, seperti qira-ah Ya'kub, Abu Ja'far, Syaibah dan lain-lain.
Selanjutnya Makki mengatakan bahwa seperti Ibnu Mujahid, Ibnu Jubair al-Makki juga menyusun sebuah buku tentang qira-ah- qira-ah Al-Quran. Dia membatasi lima buah qira-ah dengan memilih satu orang imam dari tiap-tiap daerah. Dia membatasi pada jumlah itu karena mus-haf-mus-haf yang dikirimkan Usman ke daerah-daerah berjumlah lima buah. Memang ada pendapat yang mengatakan bahwa Usman mengirimkan tujuh buah mus-haf : lima mus-haf untuk daerah-daerah yang telah disebutkan di atas, dan dua mus-haf untuk Yaman dan Bahrain, tetapi Ibnu Jubair tidak mendengar berita tentang dua mus-haf itu. Sedang Ibnu Mujahid dan lainnya bermaksud memelihara jumlah mus-haf itu. Maka dia memilih dua orang imam ahli qira-ah untuk mengganti­kan kedudukan dua mus-haf itu, dengan maksud melengkapi jumlah mus-haf tersebut, dan secara kebetulan jumlah itu sesuai dengan jumlah (huruf) yang disebutkan dalam hadis di atas. Ke­mudian orang yang tidak mengetahui latar belakang masalahnya dan kurang pengetahuannya mengira bahwa yang dimaksudkan dengan tujuh huruf itu adalah tujuh qira-ah di atas. Padahal sandaran tujuh qira-ah ini adalah kesahihan sanad dalam menerima qira-ah, kesesuaiannya dengan bahasa Arab dan rasam usmani (tulisan Mus-haf Imam).29)
Dalam asy-Syafi, al-Qurab menyatakan bahwa berpegang teguh pada tujuh qira-ah itu, bukan yang lain, tidak ada dasarnya dalam atsar maupun Sunnah. Tujuh qira-ah itu hanya merupakan pengumpulan ulama muta-akhir yang kemudian terkenal dan menimbulkan kesan tidak boleh diadakan penambahan terhadap jumlah itu. Hal ini tidak dikatakan oleh seorang ulama pun.30)




18). Abdullah bin Katsir dari Makkah. Belajar qira-ah kepada Abdullah bin Shaib, se­orang sahabat Nabi. Juga kepada Mujahid yang meriwayatkan qira-ah dari Ibnu Abbas dan Ali bin Abi Thalib. Meninggal pada 120 H.
19). Nafi' bin Abdurrahman bin Nu'aim al-Isfahani dari Madinah. Belajar qira-ah kepada Zaid bin Qa'qa' al-Qari dan Abu Maimunah, la adalah seorang budak yang dimerdekakan oleh Ummu Salamah. Meninggal pada 159 (169?) H di Madinah.
20). Ashim bin Abin Najud dari Kufah. Orang yang mendapatkan perlindungan (maula) dari Bani Huzaifah. Belajar qira-ah kepada Sa'd bin Iyas as-Syaibani dan Zir bin Hubaisy. Meninggal pada 127 (129?) H.
21). Hamzah bin Habib az-Zayyat at-Taimi dari Kufah. Seorang ahli hukum dan qira-ah. Belajar qira-ah kepada 'Ashim, A'masy, as-Sabi'i dan Manshur bin al-Mut'tamir. Juga ke­ Imam Syi'ah yang keenam, yakni Ja'far Shadiq, dan merupakan murid Imam ini. Dia mempunyai banyak karangan dan merupakan orang yang pertama kali mengarang tentang ayat-ayat mutasyabih. Meninggal pada 156 H.
22). Ali bin Hamzah bin Abdullah bin Fairuz al-Farisi dari Kufah, Baghdad. Seorang ahli nahwu dan qira-ah. Guru dan pengasuh al-Amin dan al-Makmun (dua orang putra Khalifah Harun ar-Rasyid). Mempelajari nahwu dari Yunus dan Khalil bin Ahmad al­Farahidi. Dan mempelajari qira-ah dari Hamzah dan Syu'bah bin 'lyasy. Meninggal antara 179 - 193 H di dekat kota Ray ketika menemani Khalifah Harun ar-Rasyid yang dalam perjalanan menuju Thus.
23). Abu Amr Zabban bin al-'Ala'. Meriwayatkan qira-ah dari Abu Abdurrahman as­Sulami yang mempelajarinya dari Ali bin Abi Thalib. Belajar qira-ah kepada al-Baghdadi, seorang ahfi sastra dan guru qira-ah, dan para tabi'in. Meninggal pada 154 -- 159 H di Kufah.
24). Abdullah bin 'Amir as-Syafi'i dari Damaskus. Mempelajari qira-ah dari Abu Darda , seorang sahabat Nabi. Juga dari murid-murid Usman bin Affan. Meninggal di Damaskus pada 118 H.
25). Mereka berbeda pendapat tentang para perawi yang meriwayatkan dari tujuh imam qira-ah. Yang kami sebutkan di sini sesuai dengan yang disebutkan oleh as-Suyuthi dalam al-Itqan.
26). Abu Ja'far Yazid bin al-Qa'qa' dari Madinah adalah maula Ummi Salamah. Meriwayatkan qira-ah dari Abdullah bin 'lyasy al-Mahzumi dari Ibnu Abbas dari Abu Hurairah dari Rasulullah s.a.w. Meninggal di Madinah antara 128 - 133 H. Ya'kub bin Ishak al-Basri al-Hadhrami adalah seorang ahli hukum Islam dan sastra. Meriwayatkan qira-ah dari Salam bin Sulaiman dari 'Ashim dari As-Sulami dari Ali. Meninggal pada 205 H. Khalaf bin Hisyam al-Bazaz, seorang ahli qira-ah dan meriwayatkan qira-ah dari Hamzah. Mempelajari qira-ah dari Malik bin Anas dan Hammad bin Zaid. Dan Abu 'Uwanah mcriwayatkan qira-ah darinya. Meninggal pada 229 H.
27).  Al-Itqan, I, h. 47. Hadis ini diriwayatkan oleh dua puluh satu orang sahabat. Ada juga sebagian orang yang menganggapnya sebagai mutawatir.
28). Ibid., h.82.
29). Ibid.
30). Ibid h.83.

Artikel Yang Berhubungan



1 komentar:

Wati Wijaya mengatakan...

Cream Menghapus Sulam Bibir Patent !!!
Cream
Penghilang
Tattoo
Sulam alis dan
Bibir
Cream Penghapus Sulam alis
Cream Penghapus Sulam Bibir
Cara Menghapus Sulam Bibir Aman Maraknya sulam bibir ditengah-tengah kaum selebritis yang ingin mempercantik diri tanpa repot-repot lagi untuk memasang lipstik .
Teknik sulam bibir merupakan salah satu metode terbaru yang bisa dilakukan wanita untuk mengatasi masalah bentuk bibir mereka. Sulam bibir adalah semacam treatment untuk membentuk bibir sesuai bentuk bibir dengan cara memasukkan tinta berwarna (sari tumbuhan bunga lili) dengan alat berupa jarum sulur khusus ke selaput kulit paling luar bibir.
Sulam tersebut bisa hilang Dengan Lips Care Cream penghapus Sulam Bibir .
Teknik sulam bibir dilakukan dengan tujuan untuk menyempurnakan bentuk Bibir sesuai keinginan serta kepraktisan dalam berdandan sehari-hari.


Bagi Sista Sista Yang Ingin Sulam Bibirnya Di hilangkan dengan aman Pakai Saja Cream Penghilang Sulam Bibir cream tersebut aman Di Gunaka DI Area Bibir tanpa menimbulkan iritasi pada Bibir.
HUB AMBAR WIJAYA,081382474900 / 081362033338
PIN BBM.2A71C0DD,5179BFFB

Poskan Komentar

Buat sobat blogger anda tulis komentar disini,angdidi tulis komentar disana tapi yang sopan ya!!!angdidi yakin anda adalah blogger yang baik matur kesuwun...