postingan terbaru

Loading

Jumat, 30 September 2011

Pengertian Takwil yang Hakiki dalam Al-Quran

Kesimpulan dari ayat-ayat yang di dalamnya disebutkan kata takwil - sebagiannya telah dipaparkan di atas - adalah bahwa takwil bukanlah sesuatu yang menjadi maksud kata-kata. Jelas, bahwa dalam mimpi-mimpi dan tafsirnya yang dipaparkan dalam surat Yusuf tidak ada kata-kata yang menggambarkan bahwa mimpi itu merupakan takwil verbal mimpi itu, walaupun bertentangan dengan wujud lahiriahnya. Demikian juga dalam kisah Musa dan Khidhir. Kata-kata kisah itu bukanlah bukti takwil yang dituturkan Khidhir kepada Musa. Dan pada ayat yang dipaparkan di atas:


"Penuhilah takaran jika kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar ..... " (QS 17:35)

dua kalimatnya tidak memberikan bukti verbal tentang situasi ekonomi yang menjelaskan masalah itu. Begitu pula ayat,


"Apabila kamu berselisila tentang sesuatu, maka rujukkanlah sesuatu itu kepada Allah dan Rasul-Nya. . . . " (QS 4:59)

tidak memberikan bukti verbal tentang kesatuan Islam yang ter­sirat di dalamnya. Demikian juga dengan ayat-ayat lain, jika kita menelaahnya secara mendalam dan cermat.
Adapun takwil mimpi, ia merupakan suatu kenyataan lahiriah dalam bentuk tertentu yang dilihat oleh orang-orang yang bermimpi. Dalam Kisah Musa dan Khidhir, takwil yang dijelaskan Khidhir merupakan suatu kenyataan yang menjadi dasar per­buatan-perbuatan yang dilakukannya. Dalam ayat yang menyerukan penakaran dan penimbangan yang benar, takwilnya merupa­kan suatu kenyataan dan suatu kemaslahatan umum yang menjadi dasar perintah itu. Begitu pula dengan ayat tentang perujukan perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Oleh karena itu, takwil sesuatu merupakan suatu kenyataan yang menjadi landasan sesuatu itu, dan merupakan isyarat dan pemenuhannya. Makna seperti ini terungkap dalam Al-Quran, karena Kitab ini bersumber pada serangkaian kebenaran. Dan masalah spiritual - yang lepas dari hal-hal material dan fisikal - berada di atas indera-indera kita dan di atas hal-hal lahiriah, dan bentuknya jauh lebih luas daripada kata-kata dan kalimat-kalimat yang merupakan produk-produk kehidupan material kita.
Kebenaran-kebenaran dan kenyataan-kenyataan spiritual ini tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata. Satu-satunya hal yang dimungkinkan oleh alam gaib ialah memperingatkan manusia dengan kata-kata ini agar mempersiapkan diri untuk mencapai kebahagiaan melalui keyakinan-keyakinan kongkretnya kepada kebenaran dan amal-amal saleh. Tidak adajalan lain bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan kecuali dengan hal-hal ini. Hanya pada Hari Kebangkitan dan ketika bertemu Allah, akan tampak jelas baginya kebenaran-kebenaran ini sebagaimana digambarkan oleh dua ayat dari surat al-A'raf (6) dan S'unus (10) di atas. Me­ngenai hal ini Allah berfirman:


"Demi kitab yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami telah membuatnya menjadi Al-Quran yang berbahasa Arab agar kamu sekalian memahami. Al-Quran itu berada di dalam induk al-Kitab (Lauh Mahfudh) di sisi Kami, mempunyai nilai yang tinggi dan banyak mengandung hikmah." (QS 43:2-4)

Kata 'tinggi' berarti bahwa ia tidak bisa dimengerti oleh akal orang awam. Sedangkan 'banyak mengandung hikmah' berarti bahwa ia sedemikian kukuh.
Kesesuaian akhir ayat ini dengan takwilnya dalam arti yang telah kami sebutkan tadi sudah jelas, dan tidak perlu diragukan, terutama karena Allah berfirman "agar kamu sekalian memahami ", dan Dia tidak mengatakan "agar kamu sekalian memahaminya". Sebab, pengetahuan tentang takwil itu hanya milik Allah, sebagai­mana disebutkan dalam ayat tentang ayat-ayat muhkam dan mutasyabih, yakni "dan tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah". Oleh karena itu, ketika bermaksud memberi pe­ringatan kepada orang-orang yang menyimpang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabih, ayat itu mengatakan bahwa mereka mencari-cari fitnah dan takwil, dan tidak mengatakan bahwa mereka menemukan takwil. Karena itu, takwil merupakan kebenaran atau kebenaran-kebenaran yang ada di Lauh Mahfudh (Ummul Kitab), yang hanya diketahui oleh Allah, dan hanya ada di alam gaib.
Dalam ayat-ayat yang lain Allah berfirman:


"Maka Aku bersumpah dengan kedudukan bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar jika kamu mengetahui. Sesungguhnya ia merupakan Al-Quran yang amat mulia, di dalam kitab yang terpelihara (Lauh Mahfudh). Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturun­kan dari Tuhan semesta alam. " (QS 56:75-80)

Dari ayat-ayat itu tampak dengan jelas bahwa Al-Quran mem­punyai dua maqam (peringkat): yakni sebuah Kitab yang disimpan dan dipelihara dari sentuhan (yakni, hanya para suci yang dapat menyentuhnya), dan tanzil (pewahyuan) yang dapat dipahami oleh semua orang.
Manfaat lain yang dapat kami ambil dari ayat-ayat ini, dan tidak kami temui dalam ayat-ayat terdahulu, adalah pengecualian, yaitu "kecuali orang-orang yang disucikan". Firman ini menunjukkan bahwa ada sebagian orang yang dapat menjangkau kebenaran (esensi) AI-Quran dan takwilnya. Hal ini tidak bertentangan dengan penafian yang terdapat dalam firman 'padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah ", sebab pemaduan antara kedua ayat ini akan menghasilkan kemandirian dan ketergantungan. Artinya, dari kedua ayat itu diketahui kemandirian ilmu Allah tentang esensi-esensi ini, dan tak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali dengan izin dan pengajaran dari-Nya.
Mengetahui takwil - menurut penjelasan kami di atas - adalah seperti mengetahui hal gaib, yang dalam banyak ayat dikhususkan untuk Allah saja, dan dalam satu ayat hamba-hamba yang diridhai-Nya diberi karunia khusus untuk dapat mengetahui hal gaib itu. Ayat itu adalah firman Allah:


"Yang mengetahui hal gaib, dan Dia tidak memperlihatkannya kepada seorangpun, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. . . . " (QS 72:26-27)

Dari semua pernbicaraan tentang mengetahui yang gaib, kami dapat mengambil kesimpulan bahwa secara mandiri pengetahuan itu hanya dimiliki Allah, dan tak ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali dengan izin-Nya. Memang, orang-orang yang disucikan adalah mereka yang menyentuh kebenaran dan mencapai kedalaman pengetahuan-pengetahuan Qurani, sebagaimana dipaparkan oleh ayat-ayat yang telah kami sebutkan di atas. Jika kita memadukan ayat-ayat ini dengan ayat:


"Sesungguhnya Allah bermaksud membersihkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersih­nya. " (QS 33:33)

yang, menurut hadis-hadis mutawatir, diturunkan berkenaan de­ngan hak Ahlul Bait, maka kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad s.a.w. dan Ahlul Bait beliau a.s. adalah orang-orang yang di­sucikan dan mengetahui takwil Al-Quran.

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Poskan Komentar

Buat sobat blogger anda tulis komentar disini,angdidi tulis komentar disana tapi yang sopan ya!!!angdidi yakin anda adalah blogger yang baik matur kesuwun...