postingan terbaru

Loading

Jumat, 30 September 2011

Pengertian Takwil menurut Para Mufasir dan Ulama

Para mufasir berbeda pendapat tentang pengertian ta'wil. Terdapat lebih dari sepuluh pendapat tentang hal itu. Di antaranya, dua pendapat berikut adalah pendapat-pendapat yang terkenal:
Pendapat pertama adalah pendapat ulama-ulama klasik (qudama). Pendapat ini mengatakan bahwa takwil dan tafsir itu searti. Oleh karena itu, semua ayat Al-Quran mempunyai takwil, kecuali ayat berikut:


"Tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. " (QS 3:7)

Berdasarkan ayat ini, maka yang mengetahui ayat-ayat mutasyabih hanyalah Allah SWT. Karena itu, sebagian ulama klasik ber­pendapat bahwa ayat-ayat mutasyabih adalah singkatan-singkatan pada permulaan beberapa surat, karena tidak ada satu ayat pun dalam Al-Quran yang maknanya tidak diketahui oleh semua manu­sia selain singkatan-singkatan ini. Tetapi, dalam pembahasan yang lalu kami telah menunjukkan bahwa pendapat ini tidak benar. Mengingat Al-Quran mengatakan bahwa selain Allah tidak ada yang tahu ta'wil sebagian ayat, dan tidak ada ayat-ayat yang arti­nya tidak akan diketahui oleh semua manusia, dan mengingat singkatan-singkatan yang terletak di permulaan beberapa surat itu bukanlah ayat-ayat mutasyabih, maka para ulama mutaakhir (ulama sesudah abad ketiga Hijriah) menolak pendapat para ulama klasik ini.
Pendapat yang kedua adalah pendapat ulama mutaakhir. Pen­dapat ini mengatakan bahwa 'takwil' mempunyai makna yang berbeda dengan makna lahir suatu ayat. Oleh karena itu, tidak semua ayat Al-Quran dapat ditakwil, kecuali ayat-ayat mutasyabih. Dan yang tahu arti ayat-ayat mutasyabih ini hanyalah Allah. Contoh ayat-ayat seperti itu (mutasyabih) adalah "Allah itu ber­jasmani", "Ia datang", "bersemayam", "merasa senang, benci, sedih" dan sifat-sifat lain yang dinisbatkan kepada Allah SWT. Begitu pula ayat-ayat yang arti lahirnya menunjukkan penisbatan dosa kepada para Rasul dan Nabi yang Suci.
Sedemikian termasyhur pendapat ini, sampai-sampai kata takwil diartikan sebagai 'berbeda dengan makna lahir'. Begitu pula, menafsirkan ayat yang berbeda dengan makna lahirnya, dengan alasan yang mereka sebut takwil merupakan tema yang dikenal luas, padahal tema itu mengandung kontradiksi.1)
Walaupun sangat terkenal, pendapat ini tidak sesuai dengan ayat-ayat Al-Quran, karena:
Pertama, perkataan Al-Quran:


"Tiadalah mereka itu menunggu kecuali takwilnya." (QS 7:53)


"Bahkan mereka mendustakan apa yang belum benar-benar mereka ketahui, padahal takwilnya belum sampai kepada mereka." (QS 10:39)

menunjukkan bahwa keseluruhan ayat AI-Quran ada takwilnya. Dan yang ada takwilnya bukan saja hanya ayat-ayat mutasyabih.
Kedua, akibat dari pendapat ini ialah adanya ayat-ayat Al­Quran yang pengertian hakiki ayat-ayat itu tidak jelas dan tidak diketahui oleh manusia, dan yang mengetahuinya hanyalah Allah. Ucapan yang tidak jelas maksudnya bukanlah merupakan ucapan yang indah, padahal AI-Quran telah membuktikan keunggulan­nya dalam keindahan bahasa kepada dunia sastra­
Ketiga, berdasarkan pendapat ini, maka tidak sempurnalah penalaran Al-Quran, karena:


"Tidakkah mereka merenungkan Al-Quran? Seandainya Al­Quran itu bukan dari sisi Allah, maka mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya. " (QS 4:82)

Salah satu bukti bahwa Al-Quran bukanlah perkataan manusia adalah tidak adanya pertentangan antara makna dan maksud ayat-ayatnya, meskipun jarak masa turunnya lama, berbeda kondisi dan sebab turunnya. Pertentangan yang tampak selintas antar­beberapa ayat akan hilang dengan merenungkan ayat-ayat itu. Meskipun sejumlah ayat mutasyabih menunjukkan perbedaan dengan ayat-ayat muhkam, dan jika perbedaan ini terhapuskan dengan berpendapat bahwa arti lahiriah ayat-ayat mutasyabih bukanlah arti yang dimaksudkannya, sedangkan arti yang dimaksudkannya hanya diketahui oleh Allah saja, maka perbedaan pen­dapat seperti itu bukanlah menjadi sebab dikatakannya bahwa Al-Quran bukanlah perkataan manusia.
Jika perbedaan-perbedaan itu dapat dihapuskan dengan meng­hindarkan arti lahiriah setiap ayat yang tampak bertentangan de­ngan ayat-ayat muhkam melalui penakwilan - menurut istilah ulama mutaakhir - yang berbeda dengan lahiriahnya, maka akan ada kemungkinan untuk meniadakan perbedaan-perbedaan bahkan kata-kata manusia melaiui penakwilan.
Keempat, sama sekali tidak ada alasan bahwa menakwilkan ayat muhkam dan mutasyabih berarti bertentangan dengan makna lahir ayat itu, dan arti semacam itu tidak terdapat pada apa yang disebut 'takwil'. Sebagai contoh, pada tiga tempat mengenai kisah Nabi Yusuf a.s.,2) tafsir atas mimpi diistilahkan dengan takwil. Jelaslah bahwa tafsir atas mimpi itu bukanlah sesuatu yang berbeda dengan makna lahiriah mimpi, tetapi tafsir atas mimpi itu merupakan kenyataan lahiriah yang dilihat ketika tidur dalam bentuk tertentu, seperti Yusuf melihat penghormatan ayah, ibu dan saudara-saudaranya dalam bentuk bersujudnya matahari, bulan dan bintang kepadanya. Dan Raja Mesir melihat tahun­tahun kekeringan dalam bentuk tujuh lembu kurus memakan tujuh lembu gemuk. Sedangkan dua orang teman Yusuf di penjara melihat penyaliban dan pengabdian kepada raja dalam bentuk memeras anggur dan membawa roti di atas kepala yang dimakan burung.
Dalam kisah tentang Nabi Musa dan Khidhir, sesudah Khidhir melubangi perahu, membunuh bocah dan menegakkan dinding, selalu dikritik Musa. Kemudian Khidhir menyebutkan rahasia yang tersimpan di balik perbuatan-perbuatannya itu, dan rahasia itu dinamakannya 'takwil'. Hal ini menunjukkan bahwa maksud sejati yang berbentuk perbuatan-perbuatan disebut takwil. Dan ia bukan berarti sesuatu yang berbeda dengan wujud perbuatan itu.
Allah berfirman tentang penimbangan dan penakaran:


"Penuhilah takaran bila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama bagimu dan lebih baik takwilnya." (QS 17:35)

Yang dimaksud dengan takwil dalam penakaran dan penim­bangan di sini adalah berkenaan dengan situasi ekonomi (pertukar­an barang dan bahan pokok kehidupan) di pasar. Takwil dalam pengertian ini bukanlah bertentangan dengan makna lahiriah dari penimbangan, tetapi merupakan kenyataan lahiriah atau jiwa da­lam penakaran dan penimbangan, dan betul atau tidaknya ke­nyataan lahiriah atau jiwa itu menjadikan baik atau buruknya.
Di tempat lain Allah berfirman:


"Apabila kamu berselisih tentang sesuatu, maka rujukkanlah sesuatu itu kepada Allah dan Rasul-Nya. ..... Hal itu lebih utama dan lebih baik takwilnya." (QS 4:59)

Yang dimaksud dengan takwil dalam ayat ini adalah kukuhnya persatuan dan tegaknya hubungan-hubungan spiritual dalam masyarakat. Dan hal ini merupakan hakikat lahiriah dan bukan merupakan sesuatu yang berbeda dengan wujud lahiriah dari merujukkan perselisihan.
Demikian pula enam belas ayat lain yang menyebutkan kata takwil, yang kita tidak dapat memandang takwil sebagai sesuatu yang berbeda dengan wujud lahiriahnya, melainkan takwil itu adalah makna lain yang akan kami jelaskan dalam pembahasan yang akan datang.



 
1). Karena, menakwilkan ayat dengan mengakui bahwa takwil itu hanya diketahui secara sempurna oleh Allah SW'f, merupakan perbuatan yang kontradiktif. Tetapi, mereka menyebutkan hal itu dengan alasan bahwa takwil itu merupakan kemungkinan yang dikandung oleh ayat.
2.) Mimpi Yusuf a.s. disebutkan dalam ayat ke-4 surat Yusuf: "lrtgadah ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: 'Wahai ayah tercinta, sesungguhnya aku melihat sebelas bin­tang, matahari dan bulan bersujud kepadaku'."
Tafsir mimpi Yusuf disebutkan dalam ayat ke-100 melalui lisan Yusuf ketika ber­temu dengan ayah dan ibunya setelah beberapa tahun berpisah, yaitu: "Dan dia me­naikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana, mereka merebahkan diri menghormat kepadanya. Yusuf berkata: 'Wahai ayahku, inilah tafsir mimpiku sebelumnya. Tuhan telah membuat mirnpiku itu menjadi kenyataan'."
Mimpi Raja Mesir disebutkan dalam ayat ke-43: "Raja berkata.' 'Sesungguhnya aku bermimpi rnelihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus-kurus. Dan aku rnelihat tujuh butir gandum yang hijau dan tujuh lainnya yang kering'. "
Tafsir mimpi Raja Mesir ini disebutkan dalam ayat ke-47 - 49 melalui lisan Yusuf, yaitu: "Yusuf berkata: 'Bertanamlah tujuh tahun lamanya sebagaimana biasa, kemudian apa rang kamu tunai hendaklah tetap dibiarkan di bulirnya, kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang karnu simpan untuk menghadapinya, kecuali sedikit bibit gandum yang kamu simpan. Setelah itu akan datang tahun yang pada waktu itu manusia diberi hujan yang cukup dan di masa itu mereka memeras anggur'. "
Dan mimpi kedua teman Yusuf di penjara disebutkan dalam ayat ke-36: 'Bersama dengan dia masuk pula dua orang pemuda ke dalam penjara. Berkatalah salah seorang di antara keduanya: 'Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur.' Dan yang lainnya berkata: 'Sesungguhnya aku bermimpi membawa rori di atas kepalaku, dan sebagian roti itu dimakan burung'."
Tafsir mimpi kedua orang pemuda itu disebutkan dalam ayat ke-41 melalui lisan Yusuf: "Wahai dua orang temanku di penjara, salah seorang di antara kamu berdua akan menyuguhkan minuman tuak kepada tuannya, sedangkan yang lain akan disalib dan sebagian kepalanya akan dimakan burung. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya."

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Poskan Komentar

Buat sobat blogger anda tulis komentar disini,angdidi tulis komentar disana tapi yang sopan ya!!!angdidi yakin anda adalah blogger yang baik matur kesuwun...