postingan terbaru

Loading

Jumat, 30 September 2011

Pandangan-Pandangan Imam-Imam Alrtul Bait tentang Muhkam dan Mutasyabih

Yang kami pahami dari berbagai sabda para Imam Ahlul Bait (salam atas mereka) adalah bahwa tidak ada mutasyabih yang maksud hakikinya tidak mungkirr diketahui. Akan tetapi, ayat-ayat yang makna hakiki mereka tidak dapat diketahui secara langsung, dapat diketahui dengan merujuk kepada ayat-ayat lain. Inilah pengertian ketergantungan ayat mutasyabih kepada ayat muhkam. Arti lahir firman Allah:


"Yang Maha Pengasih bersemayam di atas 'Arsy." (QS 20:5)


"Dan datanglah Tuhanmu. " (QS 89:22)

menunjukkan bahwa Tuhan itu berjasmani dan bahwa Ia itu materi. Tetapi, jika kita merujukkan kedua ayat itu kepada firman Allah:


"Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya." (QS 42:11)

maka jelaslah bahwa bersemayam dan datang itu bukan berarti menetap di suatu tempat atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Nabi Muhammad s.a.w. bersabda tentang Al-Quran:

 "Sesungguhnya Al-Quran itu tidak diturunkan agar sebagian­nya mendustakan sebagian yang lain. Tetapi ia diturunkan agar sebagiannya membenarkan sebagian yang lain. Maka apa yang Izamu ketahui, amalkanlah, dan apa yang samar bagimu, imanilah. "1)

Ali a.s. berkata:

"Sebagian Al-Quran menguatkan sebagian yang lain, dan se­hagiannya menjelaskan sebagian yang lain.2)

Imam ash-Shadiq a.s. berkata:

"Muhkam adalah ayat yang dapat diamalkan, dan mutasyabih adalah ayat yang dapat menimbulkan kesalahpahaman bagi orang yang tidak mengetahuinya. "3)

Imam ar-Ridha a.s. berkata:

"Barazzgsiapa merujukkan ayat-ayat mutasyabih kepada ayat­-ayat muhkam, maka dia telah ditunjuki kepada jalan yang lurus. "Sesungguhnya dalam hadis-hadis kita, ada yang mutasyabih, seperti ayat-ayat mutasyabih. Oleh karena itu, rujukkanlah hadis­hadis yang mutasyabih kepada yang muhkam, dan janganlah kamu menngikuti hadis mutasyabih, agar kamu tidak tersesat. "4)

Hadis-hadis ini, khususnya hadis yang terakhir, menjelaskan bahwa untuk mengetahui makna ayat-ayat mutasyabih, kita harus merujukkan ayat-ayat itu kepada ayat-ayat muhkam. Hal ini ber­arti - sebagaimana telah kami paparkan tadi - bahwa di dalam Al-Quran tidak terdapat satu ayat pun yang tidak mungkin di­ketahui maksudnya.


1). Ad-Durrul Mantsur, II, h. 8.
2).  Nahjul Balaghah, Fatwa ke-131.
3). Tafsir al-'Iyasyi, I, h. 162.
4). ‘Uyunul Akhhar, I, h. 290.

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Poskan Komentar

Buat sobat blogger anda tulis komentar disini,angdidi tulis komentar disana tapi yang sopan ya!!!angdidi yakin anda adalah blogger yang baik matur kesuwun...