postingan terbaru

Loading

Jumat, 30 September 2011

Mengapa AI-Quran Berbicara dengan Gaya Lahir dan Batin

Manusia, dalam kehidupannya yang pertama dan sementara di dunia ini, menyerupai gelembung di samudra materi. Setiap kegiatannya dalam arus keberadaannya bergantung kepada samudra materi yang luas itu, dan ia harus berurusan dengan materi. Indera lahir dan batinnya sibuk dengan materi, dan pikirannya hanya mengikuti pengetahuan inderawinya. Makan dan minum, duduk dan berdiri, berbicara dan mendengarkan, pergi dan datang, bergerak dan diam, dan semua perbuatan serta pekerjaan yang dilakukan manusia, berkenaan dengan materi, dan dia tidak memiliki pikiran lain.
Aktivitas spiritual manusia, seperti cinta, permusuhan, cita­cita, derajat yang tinggi dan lain-lain, sebagian besar digambarkannya dalam bentuk materi, seperti menyamakan manisnya kemenangan dengan manisnya gula, daya tarik persahabatan dengan daya tarik magnit, tingginya cita-cita dengan tingginya tempat atau bintang di langit, besar dan tingginya kedudukan dengan besarnya gunung, dan lain-lain. Di samping itu, kemampuan ma­nusia untuk mengetahui hal-hal spiritual, yang wilayahnya lebih luas daripada wilayah materi, berbeda-beda dan bertingkat-tingkat. Sebagian ada yang sulit mengetahui hal-hal spiritual, dan sebagian lagi ada yang dengan mudah dapat mengetahui hal-hal spiritual yang paling luas. Semakin mampu mengetahui hal-hal spiritual, semakin sedikit keterkaitan manusia kepada materi dan pesonanya. Semakin sedikit keterkaitannya kepada materi, semakin ber­tambah pengetahuannya tentang hal-hal spiritual. Hal ini berarti bahwa setiap manusia, berdasarkan fitrahnya, memiliki kemampu­an untuk mengetahui ini. Dan seandainya manusia tidak meniada­kan kemampuan ini, maka ia dapat dididik dan dikembangkan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa apa yang di­ketahui oleh manusia yang memiliki tingkat pemahaman yang tinggi, tidak dapat dikemukakan kepada manusia yang masih memiiliki tingkat pemahaman yang rendah. Seandainya kita berusaha mengemukakannya, maka reaksinya akan bertentangan, khususnya dalam hal-hal spiritual yang lebih penting daripada hal­hal materiil yang dapat diindera. Apabila hal-hal spiritual itu dikemukakan secara apa adanya kepada orang-orang awam, maka mereka akan memberikan kesimpulan yang bertentangan dengan kesimpulan yang benar dan diharapkan.
Tidak ada salahnya di sini bila kami memberikan contoh berupa suatu agama dan dualisme. Jika Upanisyad-Upanisyad Weda India, direnungkan secara mendalam dan ditelaah bagian-bagian tertentunya dengan bantuan bagian-bagian lainnya, maka akan diketahui bahwa kitab suci itu menuju kepada tauhid. Akan tetapi sayangnya, tujuan itu dikemukakan secara langsung dan tidak menurut tingkat pemikiran orang-orang awam, sehingga akibatnya orang-orang Hindu yang lemah akalnya berkecenderungan untuk menyembah bermacam-macam berhala. Karena itu, rahasia-rahasia metafisikal harus dikemukakan secara tertutup atau terselubung kepada orang-orang yang bersikap materialistik.
Dalam agama-agama lain, sebagian orang teralang dari banyak hak keagamaan, seperti kaum wanita dalam Hindu Brahma, yahudi dan Kristen, sedangkan dalam agama Islam kasus seperti di atas tidak ada. Hak-hak keagamaan dalam Islam adalah untuk semua, bukan milik suatu kelompok tertentu, sehingga tidak ada perbedaan antara kaum awam dan kaum khusus, pria dan wanita, dan antara yang berkulit hitam dan yang berkulit putih. Semuanya sama dalam pandangan Islam dan tak seorang pun mempunyai kelebihan atas yang lain. Allah berfirman:


"Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan." (QS 3:195)


"Hai manusia, sesungguhnya Kami meneiptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Dan Kami menjadakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling berkenalan. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. " (QS 49:13)

Berdasarkan pemaparan di atas dapat kami katakan bahwa Al-Quran Suci memandang semua manusia bisa diajar, sehingga ia menggelarkan ajaran-ajarannya kepada semua manusia, makhluk yang mampu berjalan menuju kesempurnaan.
Mengingat terdapat perbedaan besar dalam memahami hal-hal spiritual, dan mengingat bahaya yang mungkin terjadi ketika ajaran-ajaran yang tinggi disampaikan, seperti telah kami sebutkan tadi, Al-Quran mengemukakan ajaran-ajarannya dengan penyam­paian sederhana yang sesuai untuk kebanyakan orang, dan ia berbicara dengan menggunakan bahasa yang dapat mereka pahami.
Cara seperti ini menyebabkan pengetahuan-pengetahuan yang tinggi terjelaskan dengan bahasa yang dapat dipahami oleh orang kebanyakan. Dalam cara ini arti lahir kata-kata berfungsi menyam­paikan hal-hal dalam bentuk yang dapat dimengerti. Dan hal-hal spiritual - yang tetap berada di balik tirai arti-arti lahir - akan menunjukkan diri menurut pemahaman mereka. Setiap orang akan mengetahui arti-arti itu menurut kadar kemampuan akalnya. Allah berfirman:


"Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahaminya. Al-Quran itu ada dalam Ummul Kitab di sisi Kami, benar-benar tinggi nilainya dan amat banyak mengandung hikmah. " (QS 43:3-4)

'Benar-benar tinggi nilainya' berarti bahwa ia tak terjangkau oleh manusia, dan 'mengandung hikmah' berarti bahwa akal manusia tak dapat menembusnya. Untuk memberikan perumpamaan ten­tang kebenaran, kepalsuan dan kemampuan akal, Allah berfirman:


"Allah telah menurunkan air hujan dari langit, kemudian mengalirkan air di lembah-lembah menurut ukurannya. " (QS 13: 17)

Dan Rasulullah s.a.w. bersabda dalam sebuah hadis yang terkenal:


"Kami, golongan para Nabi, berbicara kepada manusia menurut kadar kemampuan akal mereka. "1)

Hasil lain dari cara ini ialah bahwa arti-arti lahir Al-Quran itu adalah seperti lambang dari arti-arti batin. Yakni, dalam hal ajaran­ajaran Allah yang berada di luar pemahaman orang kebanyakan ada bentuk-bentuk perumpaannya, sehingga ajaran-ajaran itu bisa dimengerti oleh orang kebanyakan. Allah berfirman:


"Sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al-Quran ini tiap-tiap macam perumpamaan, tetapi kebanyakan manusia mengingkarinya. " (QS 17:89)

                                                                                             
"Itulah perumpamaan perumpamaan yang Kami buat bagi manusia dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." (QS 29:43)

Di dalam Al-Quran terdapat banyak perumpamaan, tetapi ayat-ayat di atas dan ayat-ayat lain yang berkaitan dengan masalah ini adalah mutlak. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa seluruh ayat ini merupakan perumpamaan-perumpamaan tentang pengetahuan-pengetahuan tinggi yang merupakan maksud sejati Al-Quran.


1). Biharul Anwar, I, h. 37.

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Poskan Komentar

Buat sobat blogger anda tulis komentar disini,angdidi tulis komentar disana tapi yang sopan ya!!!angdidi yakin anda adalah blogger yang baik matur kesuwun...