postingan terbaru

Loading

Jumat, 30 September 2011

Cara Pewahyuan Al-Quran

Yang kami pahami dari Al-Quran tentang cara pewahyuannya ialah bahwa kitab suci ini diwahyukan melalui firman Allah kepada Rasulullah, dan beliau menerima firman itu dengan segenap keberadaannya. Allah berfirman:


"Tidak mungkin bagi seorang manusia Allah berkata-kata de­ngannya kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat), lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguh­nya Dia Mahatinggi lagi Mahabijaksana. Demikianlah, Kami me­wahyukan kepadamu wahyu (Al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Quran itu dan tidak pula mengetahui apakah iman itu. Tetapi Kami menjadikan Al-Quran sebagai cahaya untuk memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesung­guhnya kamu benar-benar memberi petunjuk ke jalan yang lurus." (QS 42:51-52)

Tentang berfirmannya Allah, mereka menyebutkan ada tiga bagian, berdasarkan pengulangan yang terdapat dalam ayat pertama, dan bahwa wahyu dalam bagian pertama tidak dinisbatkan kepada tempat tertentu, dan dalam bagian ketiga dinisbatkan ke­pada Rasulullah. Tiga macam itu adalah:
  1. Berfirman tanpa ada perantara antara Allah dan manusia.
  2. Berfirman dari balik tirai, seperti pohon Thur, dan Musa mendengar firman Allah dari arah pohon itu.
  3. Firman yang dibawa oleh malaikat dan disampaikannya ke­pada manusia, sehingga dia mendengar perkataan malaikat sebagai wahyu ketika malaikat itu menirukan firman Allah.
Sedangkan ayat kedua menunjukkan bahwa Al-Quran di­wahyukan kepada Nabi dengan cara terakhir ini. Dan dari cara ini diketahui bahwa Al-Quran diturunkan melalui firman yang dibawa oleh malaikat. Allah berfirman:


"Ar-Ruhul Amin turun membawa Al-Quran kepada hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas." (QS 26:193-195)


"Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka sesungguhnya ia telah menurunkan Al-Quran di hatimu." (QS 2:97)

Dari ayat-ayat ini dapat dipahami bahwa Al-Quran, seluruhnya atau sebagiannya, diturunkan dengan perantaraan malaikat pembawa wahyu, Jibril, yang disebut ar-Ruhul Amin. Dari ayat­ayat ini dapat pula dipahami bahwa Nabi s.a.w. menerima wahyu dari malaikat dengan segenap keberadaannya,5) tidak dengan telinganya saja. Allah berfirman:


"Allah mewahyukan apa yang diwahyukan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Hati tidak akan mendustakan apa yang dilihat­nya. Maka apakah mereka (kaum musyrikin Makkah) akan membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya." (QS 53:10-12)

Dalam tempat lain, wahyu diungkapkan dengan 'membaca lembaran-lembaran.' Allah berfirman:


"Seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan. " (QS 98:2)

Sebelum mengakhiri pembahasan ini, kami ingin mengatakan bahwa ada banyak masalah dan keterangan lain dalam Al-Quran tentang macam-macam wahyu, sifat-sifat dan ciri-cirinya. Dan hal ini berada di luar pembahasan buku ini untuk membicarakannya secara panjang lebar.


5). Dengan alasan bahwa kedua ayat itu menegaskan diturunkannya Al-Quran pada hati Rasul s.a.w. Dalam kebiasaan Al-Quran, yang dimaksudkan dengan hati adalah jiwa, sebagaimana kita ketahui dalam beberapa ayat yang menisbatkan pengetahuan, perasaan dan maksiat kepada hati. Padahal, semuanya itu berasal dari jiwa.

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Poskan Komentar

Buat sobat blogger anda tulis komentar disini,angdidi tulis komentar disana tapi yang sopan ya!!!angdidi yakin anda adalah blogger yang baik matur kesuwun...