postingan terbaru

Loading

Minggu, 25 September 2011

Cara mengolah guru sejati sedulur papat


Guru Sejati yakni rahsa sejati; meretas ke dalam sukma sejati, atau sukma suci, kira-kira sepadan dengan mak-na roh kudus (ruhul kudus/ruh al-quds). Kita mendaya gunakan Guru Sejati kita dengan cara mengarahkan kekuatan metafisik sedulur papat (dalam lingkup mikrokosmos) untuk selalu was-pada dan jangan sampai tunduk oleh hawa nafsu. Bersamaan me-nyatukan kekuatan mikrokosmos dengan kekuatan makrokosmos yakni papat keblat alam semesta yang berupa energi alam dari empat arah mata angin, lantas melebur ke dalam kekuatan pancer yang bersifat transenden (Tuhan Yang Maha kuasa). Setiap orang bisa bertemu Guru Sejatinya, dengan syarat kita dapat menguasai hawa nafsu negatif; nafsu lauwamah (nafsu serakah; makan, minum, kebutuhan ragawi), amarah (nafsu angkara murka), supiyah (mengejar kenikmatan duniawi) dan al-mutmainah (mengapai nafsu positif dalam sukma sejati). Sehingga jasad dan nafs/hawa nafsulah yang harus mengikuti kehendak sukma sejati untuk menyamakan frekuensinya dengan gelombang Yang Maha Suci. Sukma menjadi suci tatkala sukma kita sesuai dengan karakter dan sifat hakekat gelombang Dzat Yang Maha Suci, yang telah meretas ke dalam sifat hakekat Guru Sejati. Yakni sifat-sifat Sang Khaliq yang (minimal) meliputi 20 sifat. Peleburan ini dalam terminologi Jawa disebut MANUNGGALING  KAWULA GUSTI. Tradisi Jawa mengajarkan tatacara membangun sukma sejati dengan cara ‘manunggaling kawula Gusti’ atau penyatuan/penyamaan sifat hakikat makhluk dengan Sang Pencipta (wahdatul wujud). Sebagaimana makna warangka manjing curiga; manusia masuk kedalam diri “Tuhan”, ibarat Arya Sena masuk kedalam tubuh Dewaruci. Atau sebaliknya, Tuhan menitis ke dalam diri manusia; curigo manjing warongko, laksana Dewa Wishnu menitis ke dalam diri Prabu Kreshna. Sebagai upaya manunggaling kawula gusti, segenap upaya awal dapat dilakukan seperti melalui ritual mesu budi, maladi hening, tarak brata, tapa brata, puja brata, bangun di dalam tidur, sembahyang di dalam bekerja. Tujuannya agar supaya mencapai tataran hakekat yakni dengan meninggalkan nafsul lauwamah, amarah, supiyah, dan menggapai
nafsu MUTMAINAH. Kejawen mengajarkan bahwa sepanjang hidup manusia hendaknya laksana berada dalam “bulan suci Ramadhan”. Artinya,  semangat dan kegigihan melakukan kebaikan, membelenggu setan (hawa nafsu) hendaknya dilakukan sepanjang hidupnya, jangan hanya sebulan dalam setahun. Selesai puasa lantas lepas kendali lagi. Pencapaian hidup manusia pada tataran tarekat dan hakikat secara intensif akan mendapat hadiah berupa kesucian  ilmu makrifat. Suatu saat nanti, jika Tuhan telah menetapkan  kehendak-Nya, manusia dapat ‘menyelam’ ke dalam tataran tertinggi yakni makna kodratullah. Yakni substansi dari manunggaling kawula gusti sebagai ajaran paling mendasar dalam ilmu Kejawen khususnya dalam anasir ajaran Syeh Siti Jenar. Manunggling Kawula Gusti sama dengan bersatunya Dzat Pencipta ke dalam diri mahluk. Pancaran Dzat telah bersemayan menerangi ke dalam Guru Sejati, sukma sejati.
Terdapat 7 macam tahapan tapabrata yang harus dilalui untuk mencapai hal itu:
1. Tapa Jasad: Tapa jasad adalah mengendalikan atau menghen-tikan gerak tubuh dan gerak fisik. Lakunya tidak dendam dan sakithati. Semua yang terjadi pada diri kita diterima dgn legowo dan tabah yang disebut
TAWAKAL.
2. Tapa Budhi: Tapa Budhi memiliki arti menghilangkan segala perbuatan diri dari yang hina, seperti halnya tidak jujur kepada orang lain.
3. Tapa Hawa Nafsu: Tapa Hawa Nafsu adalah mengendalikan nafsu atau sifat angkara murka yang muncul dari diri pribadi kita. Lakunya adalah senantiasa sabar & berusaha mensucikan diri, mudah memberi maaf dan
taat pada GUSTI ALLAH kang moho suci.
4. Tapa Cipta: Tapa Cipta berarti Cipta/otak kita diam dan memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh atau dalam bahasa Jawanya  ngesti surasaning raos ati. Berusaha untuk menuju heneng-menengkhusyuk- tumakninah, sehingga tidak mudah diombang-ambingkan siapapun dan selalu hening atau waspada agar senantiasa mampu memusatkan pikiran pada GUSTI ALLAH semata.
5. Tapa Sukma: Dalam tahapan ini kita terfokus pada ketenangan jiwa.Lakunya adalah ikhlas dan memperluas rasa kedermawanan dengan senantiasa eling pada fakir miskin dan memberikan SEDEKAH SECARA IKHLAS TANPA PAMRIH.
6. Tapa Cahya: Ini merupakan tahapan tapa yang lebih dalam lagi.  Prinsipnya tapa pada tataran ini adalah senantiasa eling, awas dan waspada sehingga kita akan menjadi orang yang waskitha (tahu apa yang bakal terjadi).
7. Tapa gesang: yaitu tansah eling lan ngabekti / manembah marang pusti, lakune: taqwa kpd Allah swt

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Poskan Komentar

Buat sobat blogger anda tulis komentar disini,angdidi tulis komentar disana tapi yang sopan ya!!!angdidi yakin anda adalah blogger yang baik matur kesuwun...