postingan terbaru

Loading

Minggu, 25 September 2011

cara mengenal guru sejati

     Sesungguhnya tata surya pada alam semesta ini bisa harmoni,tidak ada yang paling menonjol dan tidak ada yang saling berkuasa.Itu karena ada kekuatan yang mengatur dan yang menggerakkan dan pastinya pemilik kekuatan tersebut memiliki kekuasaan yang maha tinggi sehingga seluruh alam semesta tunduk kepada-Nya. Manusia adalah bagian dari alam semesta tersebut yg sering disebut sebagai jagat kecil
(microcosmos). Karena Manusia bagian dari alam semesta tentunya harus memiliki sinkronasi dengan kekuatan maha tinggi tersebut. Untuk mengenal kekuatan maha tinggi ter-sebut Anda akan mengenal yang
namanya GURU SEJATI.
         Tentang pengertian Guru sejati tersebut saya mengambil contoh artikel dari blognya Ki Sabda Langit, dimana beliau sangat jelas menerangkan tentang guru sejati ini. SANG GURU SEJATI itu yang saya ketahui
terdiri dari 3 bagi-an:
1. SUKMA KAWEKAS (ALLAH).
2. SANG GURU SEJATI
3. ROH SUCI / SUKMA SEJATI .
Ilmu Jawa melihat bahwa roh manusia memiliki pamomong (pembimbing) yang disebut pancer atau guru sejati. Pamomong atau GURU SEJATI berdiri sendiri menjadi pendamping dan pem-bimbing roh atau
sukma. Roh atau sukma di siram “air suci” oleh GURU SEJATI, sehingga sukma menjadi sukma sejati.
Di sini tampak Guru sejati memiliki fungsi sebagai resources atau sumber “pelita” kehidupan. Guru Sejati layak dipercaya sebagai “guru” karena ia bersifat teguh dan memiliki hakekat “sifat-sifat” Tuhan (frekuensi
kebaikan) yang abadi konsisten tidak berubah-ubah (kang langgeng tan owah gingsir). GURU SEJATI adalah proyeksi dari RAHSA / RASA / SIRR yang merupakan rahsa / sirr yang sumbernya adalah kehendak Tuhan; terminologi Jawa menyebutnya sebagai RASA SEJATI. Dengan kata lain rasa sejati sebagai proyeksi atas “rahsaning” Tuhan (sirrullah). Sehingga tak diragukan lagi bila peranan Guru Sejati akan “mewarnai” energi hidup atau roh menjadi energi suci (roh suci/ruhul kuddus). Roh kudus/ roh al
quds/ sukma sejati, telah mendapat “petunjuk” Tuhan, dalam konteks ini hakikat rasa sejati peranan roh tersebut tidak lain sebagai “UTUSAN TUHAN”.
          Jiwa, hawa atau nafs yang telah diperkuat dengan sukma sejati atau dalam terminologi Arab disebut ruh al quds, disebut juga sebagai an-nafs an-natiqah, dalam terminologi Arab juga disebut sebagai an-nafs al-muthmainah, adalah sebagai “penasihat spiritual” bagi jiwa/nafs/ hawa. JIWA perlu di dampingi oleh Guru Sejati karena ia dapat dikalahkan oleh nafsu yang berasal dari jasad/raga/organ tubuh manusia. Jiwa yang ditundukkan oleh nafsu hanya akan merubah karakternya menjadi jahat. Menurut ngelmu Kejawen, ilmu seseorang dikatakan sudah mencapai puncaknya apabila sudah bisa menemui wujud GURU SEJATI. Guru
Sejati benar-benar bisa mewujud dalam bentuk “halus”, wujudnya mirip dengan diri kita sendiri. Mungkin sebagian pembaca yang budiman ada yang secara sengaja atau tidak pernah menyaksikan, berdialog, atau
sekedar melihat diri sendiri tampak menjelma menjadi dua, seperti melihat cermin. Itulah Guru Sejati anda.
Atau bagi yang dapat meraga sukma, maka akan melihat kembarannya yang mirip sukma atau badan halusnya sendiri. Wujud kembaran (berbeda dengan konsep sedulur kembar) itu lah identitas Guru Sejati. Karena Guru Sejati memiliki sifat hakekat Tuhan, maka segala nasehatnya akan tepat dan benar adanya. Tidak akan menyesatkan. Oleh sebab itu bagi yang dapat bertemu Guru Sejati, saran dan nasehatnya layak diikuti. Bagi yang belum bisa bertemu Guru Sejati, anda jangan pesimis, sebab Guru Sejati akan selalu mengirim pesan-pesan berupa sinyal dan getaran melalui Hati Nurani anda yang di-sebut INTUISI. Maka anda dapat
mencermati suara hati nurani anda sendiri untuk memperoleh petunjuk penting bagi permasalahan yang anda hadapi. Namun permasalahannya, jika kita kurang mengasah ketajaman batin, sulit untuk membedakan apakah yang kita rasakan merupakan kehendak hati nurani (kareping rahsa) ataukah kemauan hati atau hawa nafsu (rahsaning karep). Artinya, Guru Sejati menggerakkan suara hati nurani yang diidentifikasi pula sebagai kareping rahsa atau kehendak rasa (petunjuk Tuhan) sedangkan hawa nafsu tidak lain merupakan rahsaning karep atau rasanya keinginan. 
Sarat utama kita bertemu dengan Guru Sejati kita adalah dengan laku prihatin; yakni selalu mengolah rahsa, mesu budi, maladi hening, mengolah batin dengan cara member-sihkan hati dari hawa nafsu, dan menjaga kesucian jiwa dan raga. Sebab orang yang dapat bertemu langsung dengan Guru Sejatinya sendiri, hanyalah orang-orang yang terpilih dan pinilih. “Segala sesuatu yg terjadi di alam semesta ini pada hakikatnya adalah af’al (perbuatan) Allah. Berbagai hal yg dinilai baik maupun  buruk pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Af’al Allah harus dipahami dari dalam dan dari luar diri. Saat manusia menggoreskan pena misalnya, di situlah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati yg dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-NYA, yakni kemampuan kodrati gerak pena.
      Di situlah berlaku dalil “Wa Allahu khalaqakum wa ma ta’malun (Qs.Ash-Shaffat:96)”, yang maknanya Allah yang menciptakan engkau dan segala apa yang engkau perbuat. Di sini terkandung makna mubasyarah. Perbuatan yg terlahir dari itu disebut al-tawallud. Misalnya saya melempar batu. Batu yang terlempar dari tangan saya itu adalah berdasarkan kemampuan kodrati gerak tangan saya. Di situ berlaku dalil
“Wa ma ramaita idz ramaita walakinna Allaha rama (Qs.Al- Anfal:17)”, maksudnya bukanlah engkau yang melempar, melainkan Allah jua yg melempar ketika engkau melempar. Namun pada hakikatnya
antara mubasyarah dan al-tawallud hakikatnya satu, yakni af’al Allah sehingga berlaku dalil LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BI ALLAHI AL- ‘ALIYI AL-‘ADZIMI. Rosulullah bersabda “La tataharraku dzarratun illa bi idzni Allahi”, yg maksudnya tidak akan bergerak satu dzarah pun melainkan atas idzin Allah.” Eksistensi manusia yang manunggal ini akan nampak lebih jelas peranannya, dimana manusia tidak lain adalah ke-Esa-an dalam af’al Allah. Tentu ke-Esa-an bukan sekedar af’al, sebab af’al digerakkan oleh dzat. Sehingga af’al yg menyatu menunjukkan adanya ke- Esa-an dzat, kemana af’al itu dipancarkan.

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Poskan Komentar

Buat sobat blogger anda tulis komentar disini,angdidi tulis komentar disana tapi yang sopan ya!!!angdidi yakin anda adalah blogger yang baik matur kesuwun...