postingan terbaru

Loading

Jumat, 30 September 2011

Bagaimana Menafsirkan Al-Quran?

Jawaban untuk pertanyaan ini akan menjadi jelas bila kita merujuk kepada pembahasan-pembahasan sebelumnya. Al-Quran - seperti telah kami paparkan di atas - adalah sebuah kitab universal dan abadi untuk semua orang, berbicara kepada mereka dan menunjukkan tujuan-tujuan mereka. Dalam banyak ayatnya, Al-Quran menantang agar didatangkan perkataan yang menyamainya. Dengan demikian ia mengalahkan pemyataan manusia, dan menempatkan dirinya sebagai cahaya yang memperjelas segala sesuatu, sehingga kitab ini tidak perlu dijelaskan dengan yang lain. Untuk membuktikan bahwa ia bukan perkataan manusia, Al­Quran berkata:


"Tidakkah mereka merenungkan Al-Quran? Seandainya ia itu dari sisi selain Allah, tentu mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya." (QS 4:82)

Dalam Al-Quran tidak ada satu pertentangan pun. Andaikata secara selintas tampak ada pertentangan, maka pertentangan itu akan sirna dengan merenungkan Al-Quran itu sendiri. Seandainya dalam menjelaskan maksud-maksud kitab ini dibutuhkan sesuatu yang lain, maka kedudukannya sebagai hujah tidak akan sempurna. Karena andaikata seorang kafir menemukan suatu pertentang­an dalam Al-Quran yang tidak dapat dihilangkan dengan merujuk kepada ayat-ayat lain Al-Quran itu sendiri, maka ia tidak akan dapat menerima dihilangkannya pertentangan itu melalui jalan lain, dengan menggunakan hadis, umpamanya. Hal itu dikarenakan orang kafir tidak mempercayai kebenaran Nabi dan tidak mem­percayai kenabian serta kesuciannya, sehingga ia akan menolak pernyataan Nabi. Dengan kata lain, akan sia-sia bila Nabi men­jelaskan untuk menghilangkan pertentangan-pertentangan dalam AI-Quran tanpa menggunakan bukti verbal dari Al-Quran itu sen­diri kepada orang yang tidak mempercayai kenabian dan kesuci­annya. Dan ayat di atas memang ditujukan kepada orang-orang kafir yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad s.a.w. Mereka tidak mau menerima sabda-sabda beliau jika tidak ada bukti kuat dari Al-Quran sendiri. Kita pun mengetahui bahwa Al-Quran sen­diri mengabsahkan sabda dan penafsiran Nabi. Begitu pula, Nabi mengabsahkan sabda dan penafsiran Ahlul Baitnya.
Dari dua pernyataan ini dapat kami simpulkan bahwa di dalam AI-Quran ada sebagian ayat yang dapat dijelaskan dengan ayat­ayat yang lain, dan kedudukan Rasulullah serta keluarga beliau berkenaan dengan Al-Quran adalah sebagai guru dan pembimbing suci yang tidak akan ada kekeliruan atau kesalahan dalam ajaran­ajaran dan petunjuk-petunjuk mereka. Oleh karena itu, penafsiran mereka adalah sesuai dengan penafsiran yang dibuat dari memadu­kan ayat-ayat Al-Quran itu sendiri.


Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat kita peroleh dalam pembahasan yang lalu adalah bahwa penafsiran yang realistis terhadap Al-Quran merupakan penafsiran yang bersumber dari perenungan terhadap ayat-ayat Al-Quran dan pemaduan sebagiannya dengan sebagian yang lain. Lebih jelasnya, dalam menafsirkan Al-Quran, kita dapat menempuh salah satu dari tiga jalan berikut:
  1. Menafsirkan suatu ayat dengan bantuan data ilmiah atau non­ilmiah yang kita miliki.
  2. Menafsirkan suatu ayat dengan bantuan hadis-hadis yang diriwayatkan dari Imam-imam suci.
  3. Menafsirkan suatu ayat dengan jalan merenungkan dan meng­kaji ayat itu dan ayat lain yang berkaitan, dan dengan bantuan hadis-hadis.
Jalan ketiga adalah kesimpulan pada akhir pembahasan yang lalu. Jalan ini diisyaratkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Nabi dan Ahlul-Bait beliau. Nabi bersabda:

"Sesungguhnya sebagian ayat membenarkan sebagian yang lain. "

Ali berkata:

"Al-Quran, sebagiannya menjelaskan sebagian yang lain, dan sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. "

Dari paparan di atas jelaslah bahwa jalan ini bukanlah jalan yang dilarang dalam sebuah hadis Nabi yang terkenal:

"Barangsiapa menafsirkan Al-Quran berdasarkan pendapat pribadinya, maka dia telah mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka. "

karena jalan tersebut berupa menafsirkan Al-Quran dengan Al­Quran, tidak dengan pendapat pribadi.
Jalan pertama tidak boleh diikuti. Sebab, pada hakikatnya ia merupakan penafsiran dengan menggunakan pendapat pribadi. Adapun jalan kedua adalah jalan yang digunakan oleh para ulama tafsir pada periode awal, dan telah dipraktekkan selama beberapa abad. Jalan itu adalah jalan yang dipraktekkan sampai sekarang oleh para penulis hadis dari kalangan Syi'ah dan Ahlus Sunnah. Jalan ini terbatas dan tidak dapat memenuhi ketidakterbatasan kebutuhan, karena lebih dari enam ribu ayat dalam Al-Quran menghadapi beratus-ratus ribu pertanyaan ilmiah ataupun non­ilmiah. Dari manakah kita menemukan jawaban untuk pertanyaan­pertanyaan ini, dan bagaimana menghindarinya? Apakah kita akan mencarinya dalam riwayat-riwayat dan hadis-hadis? Dalam hal ini, jumlah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh kalangan Ahlus Sunnah kurang dari dua ratus lima puluh hadis. Dan banyak dari hadis­hadis ini lemah sanad-nya dan sebagiannya tertolak (munkar). Dan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh kalangan Syi'ah mencapai beberapa ribu hadis. Di antaranya ada sejumlah besar hadis yang andal (shahih). Meskipun demikian, hadis-hadis sebanyak itu tidak mencukupi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak terbatas tentang ayat-ayat Al-Quran.
Di samping itu, ada ayat-ayat yang tidak ada satu hadis pun yang menjelaskan ayat-ayat itu, baik yang diriwayatkan oleh kalangan Ahlus Sunnah maupun Syi'ah. Bagaimana tindakan kita terhadap ayat-ayat tersebut? Menghadapi masalah ini, kita bisa merujuk kepada ayat-ayat Al-Quran yang sesuai dengan ayat yang ingin kita tafsirkan. Hal ini tidak dilarang. Mungkin kita menolak untuk membahas ayat itu dan mengabaikan kebutuhan-kebutuhan ilmiah yang menuntut kita untuk melakukan pembahasan. Jika demikian, apakah yang akan kita perbuat dengan ayat-ayat berikut yang menganjurkan pengkajian, perenungan dan pembahasan?


"Kami telah menurunkan Al-Quran kepadamu untuk menjelas­kan segala sesuatu." (QS 16:89)


"Tidakkah mereka merenungkan Al-Quran?" (QS 4:82)

                                                                                                       ,
"Sebuah kitab yang penuh berkah yang telah Kami turunkan kepadamu agar mereka merenungkan ayat-ayatnya, dan orang­orang yang berakal menjadi sadar." (QS 38:39)


"Tidakkah mereka merenungkan Al-Quran, ataukah telah datang kepada mereka sesuatu yang tidak datang kepada nenek moyang mereka?" (QS 23:68)

Dalam beberapa hadis sahih yang diriwayatkan dari Nabi dan para Imam Ahlul Bait, kita dianjurkan untuk kembali kepada Al­-Quran ketika menghadapi masalah.34) Apakah yang harus kita per­buat dengan hadis-hadis ini?
Hadis-hadis Nabi, pada umumnya, dan khususnya hadis-hadis mutawatir Nabi dan para Imam Ahlul Bait, telah menetapkan suatu kewajiban untuk merujukkan hadis-hadis kepada Al-Quran.35)Yang sesuai dengan AI-Quran, dapat diikuti dan yang tidak sesuai, dibuang. Kandungan hadis-hadis ini dipandang benar jika maksud dan pengertian (tafsir) ayat itu jelas. Apabila untuk mengetahui pengertian suatu ayat, kita harus merujuk kepada hadis, maka tidak ada ruang lagi untuk merujukkan hadis kepada Al-Quran. Hadis-hadis yang telah kami paparkan ini merupakan bukti paling kuat bahwa ayat-ayat Al-Quran itu seperti kata-kata berarti yang digunakan dalam pembicaraan. Ayat-ayat itu sendiri sudah me­rupakan hujah jelas yang tidak memerlukan hadis-hadis untuk menerangkannya.
Dari beberapa pembahasan yang lalu telah menjadi jelas bahwa kewajiban seorang mufasir adalah memperhatikan hadis-hadis Nabi dan para Imam Ahlul Bait dalam menafsirkan Al-Quran, dan mengetahui metode mereka. Kemudian menafsirkan Al-Quran dengan metode Al-Quran dan Sunnah, mengambil hadis-hadis yang sesuai dengan Al-Quran, dan membuang yang tidak sesuai.


34). Baca bagian awai Tafsir al-'Iyasyi, ash-Shafr, al-Burhan dan Biharul Anwar.
35). Biharul Anwar, l, h. 137.
 

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Poskan Komentar

Buat sobat blogger anda tulis komentar disini,angdidi tulis komentar disana tapi yang sopan ya!!!angdidi yakin anda adalah blogger yang baik matur kesuwun...