postingan terbaru

Loading

Selasa, 02 November 2010

‘Sayembara Iblis’-bag. akhir

MEDAN MAGNET ZINA
Tidak serta merta cara setan menyeru orang untuk berzina. Setan tidak akan mengatakan, “berzinalah supaya kamu dirajam sampai mati…berselingkuhlah supaya kamu disiksa dineraka..!” Terlalu bodoh kita jika mengira setan menyuarakan itu. Tetapi setan menyeret dengan halusnya. Mereka ’sabar’ untuk menanti hasil akhirnya. Setan menggiring langkah demi langkah agar manusia mau mengikuti langkahnya. Inilah ‘khuthuwath’ setan yang diingatkan Allah,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar…” (QS An-Nuur 21)
Langkah demi langkah itulah medan magnet zina yang akan menarik manusia ke dalam zina. Diantara medan magnet zina itu adalah :
Pandangan Mata
Ibnul Qayyim berkata, “Allah SWT menjadikan mata sebagai cermin bagi hati. Jika seorang hamba menutup matanya (dari yang haram), maka hati akan menutup syahwat dan keinginan buruknya. Namun jika dia mengumbar pandangannya, maka hati akan mengumbar syahwatnya…”
Beliau melanjutkan, “Ketika pandangan mata telah meninggalkan pengaruhnya di hati, jika pelakunya teguh dan berusaha lalu memutusnya dari awal, maka dengan mudah bias terobati. Akan tetapi jika dia mengulang pandangannya, membayangkan kecantikan rupa lalu mentransfernya ke dalam hati yang kosong, maka rasa cinta akan tertanam kokoh di dalamnya. Setiap kali dia mengarahkan pandangan maka seperti air yang menyuburkan tanaman. Pohon cinta itu terus tumbuh dan berkembang hingga mampu merusak hati, lalu hati akan mengomando pikiran sesuai keinginannya, hingga membawa pemiliknya kepada bala’ dan menyebabkan terjerumusnya ia ke dalam dosa-dosa dan fitnah.”
Ada pepatah: dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati. Syair ini sangat popular di kalangan pecinta musik dan lagu. Antara mata dan hati terdapat pintu terbuka dan jalan penghubung antara keduanya. Apa yang dikonsumsi mata, itu pula yang akan mendominasi hati. Bahkan masuknya pengaruh pandangan mata ke dalam hati melebihi kecepatan masuknya udara ke tempat yang kosong.
Jika yang dikonsumsi mata adalah sesuatu yang haram maka hati yang merupakan komandan seluruh jasad akan ternoda, dia tidak menyuruh kecuali yang haram.
Diantara ulama menggambarkan hubungan timbal balik antara mata dan hati dengan dialog imajiner yang terjadi antara keduanya. Mata berkata kepada hati : “Wahai hati, mengapa engkau menyuruhku melihat sesuatu yang haram? ” Hati mendebat mata dan berkata: “Itu gara-gara kamu juga, karena tadinya engkau melihat yang haram, sehingga mengotoriku. Maka akupun menyuruh dengan sesuatu yang haram pula.” Lalu datanglah anggota badan lain sebagai hakim dan berkata: “Kalian berdua ibarat dua orang, yang satu lumpuh namun bisa melihat dan yang satu buta tapi mampu berjalan. Ketika si lumpuh melihat buah yang menggiurkan sementara dia tidak mampu meraihnya karena lumpuh, diapun mengabarkan kepada si buta yang mampu berjalan. Lalu untuk mendapatkan buah tadi keduanya bekerja sama, kakinya mengunakan kaki si buta, sedangkan matanya menggunakan mata si lumpuh. Setelah itu keduanya sama-sama merasakan lezatnya buah tersebut.
Apa yang dikonsumsi mata,pengaruhnya terus mengalir mengikuti siklusnya. Tak akan berhenti pada satu titik saja, bahkan tak cukup hanya sekali putaran dia mempengaruhi aktivitas jasad seluruhnya. Seluruh dosa bisa bermula dari mata, meluapnya syahwat dari bendungannya paling sering berawal darinya juga.
Benarlah apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim bahwa ‘pandangan mata adalah juru pengintai syahwat dan utusannya.’ Pasalnya, dialah yamg bertugas mencari mangsa, dia pula yang pertama mencicipinya dan dia pula yang akan menyalurkannya kepada hati sebagai panglimanya, selanjutnya hati yang akan membagikannya kepada seluruh angota badan sebagai pasukannya.
Tentang bagaimana siklus dosa mengalir, terutama dosa zina dijelaskan dengan sangat apik oleh Ibnul Qayyim di dalam bukunya Al-Jawabul Kafi.
Pertama, bermula dari pandangan. Khususnya jika obyek yang dipandang adalah wanita (jika yang memandang adalah laki-laki) atau sebaliknya. Bisa juga berupa gambar atau film. Dari pandangan ini, hampir pasti meninggalkan bekasnya, seberapapun kadarnya.
Kedua, siklus akan beralih dari pandangan menuju lintasan hati. Hati merekam apa yang dilihatnya, wajahnya, auratnya dan apapun yang berkesan setelah pandangan mendarat pada sasarannya. Pada terminal ini,teramat sulit untuk membendung bola salju yang telah menggelinding, hingga sampailah ia pada siklus berikutnya yang lebih akut.
Ketiga, dari lintasan hati akan melahirkan pikiran. Indahnya obyek pandangan senantiasa terbayang di benaknya hingga hati sibuk memikirkannya. Diapun berangan: ‘Seandainya saja…’ , ‘mungkinkah jika aku…’ , ‘bagaimana caranya…’ dan angan-angan lain yang menyibukkan sebagian aktivitas pikiran dan hatinya. Bayang-bayang itu pula yang memenuhi rongga hati dan otaknya.
Keempat, Di saat akal sibuk memikirkannya, hati antusias untuk membayangkannya, secara otomatis, siklus berikutnya telah dimasuki, yakni hadirnya syahwat. Ya, serta merta syahwat akan hadir di saat orang membayangkan ‘wanita’ atau berfikir seandainya yang menjadi aktor dalam film asusila adalah dirinya. Pada titik ini, nasib imannya sudah berada di ujung tanduk, benteng pertahanannya sudah nyaris ambruk. Karena ia memasuki fase yang lebih berbahaya.
Kelima, Hadirnya syahwat akan melahirkan ‘iradah’, kemauan untuk melampiaskannya. Jika dia telah membayangkan orang berzina, niscaya timbul kemauan untuk melakukannya.
Keenam, jika iradah semakin menguat maka terciptalah ‘azimah jazimah’, tekad yang kuat atau gejolak nafsu yang membara. Dan jika tekad telah bulat, perbuatan zina akan sulit dibendung.
Siklus ini sulit dihentikan bila terlanjur berputar.
Berduaan, apalagi Pacaran
Berduaan, adalah medan yang paling dekat dengan perzinaan. Ketika dua insan lain jenis berduaan, maka setan hadir sebagai pihak yangketiga. Pihak yang akan memprovokasi keduanya hingga sama-sama berhasrat untuk melakukan zina. Nabi bersabda,
“Tiada seorangpun yang berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) melainkan pihak ketiga adalah setan.” (HR Tirmidzi)
Larangan berduaan berlaku pula meskipun aktifitasnya belajar atau bekerja, apalagi jika berpacaran, lebih dekat kepada perzinaan.Tragisnya, pacaran sudah menjadi tren generasi muda masa kini. Mereka gelisah ketika sudah dewasa sementara belum memiliki pacar.
Aktivitas pacaran menyebabkan seluruh anggota badan pelakunya mendapat bagian zina. Nabi bersabda,
“Zinanya mata adalah melihat, zina telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berkata, zina tangan adalah menyentuh, zina kaki adalah berjalan, zina hati adalah ingin dan berangan-angan. Dibenarkan hal ini oleh kelaminnya atau didustakan.” (HR Muslim)
Siapakah orang yang berpacaran tanpa melihat si pacar? Tanpamendengar kata-kata cinta penggugah nafsu dari sang pacar? Tanpa mengucapkan kata-kata romantis pemantik syahwat? Tanpa pegang-pegang meskipun hanya telapak tangan? Atau tanpa berjalan untuk ‘apel’? Dan, meskipun tidak semuanya, jarang sekali yang berhenti sebelum mencapai penghabisan langkah setan yang diikutinya, yakni zina. Nas’alullahal ‘afiyah.
Sebagian merasa terlalu percaya diri dan berbangga, meskipun sudah lama berpacaran, toh kami belum pernah berzina, begitu kilahnya. Dia tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu bahwa cukup dikatakan dosa, aktivitas pacaran yang dilakukan selama ini, baik memandang berkali-kali, berduaan, memegang dan yang lain. Andai saja tidak sampai terjadi zina, cukuplah dia dikatakan telah menabung dosa.
Ikhtilath, Campur Baur Pria-Wanita
Fenomena perselingkuhan merebak begitu dahsyatnya. Ada yang selingkuh dengan teman kerjanya, teman lamanya, bawahannya, atasannya, atau bahkan iparnya. Tak terhitung pula banyaknya perzinaan yang dilakukan oleh sesama mahasiswa atau siswa. Faktor utamanya adalah ikhtilath. Karena bercampur baurnya mereka merupakan sarana yang sangat efektif bagi terjerumusnya mereka ke dalam tindakan keji dan kotor. Alangkah banyaknya di zaman ini orang-orang yang menuntut dan mensosialisasikan ikhtilath (campur baur) ini. Mereka menyerukan bercampurnya antara laki-laki dan perempuan dalam segala bidang dan lapangan pekerjaan. Mereka mengaku bermaksud baik dan membangun masyarakat. Allah Ta’ala berfirman,
“Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS Al-Baqarah 12)
Ibnul Qayyim menjelaskan dampak negatif ikhtilath, “Tidak diragukan lagi, ketika kaum wanita membaurkan diri mereka dengan kaum laki-laki, itu adalah akar dari berbagai macam bencana dan keburukan. Tindakan ini merupakan sebab utama datangnya siksa secara masal. Hal ini juga menjadi sebab rusaknya urusan orang-orang umum dan khusus. Disamping itu juga menyebabkan kematian masal dan penyakit tha’un yang membinasakan. Ketika bercampur para pezina dengan tentara Musa alaihis salam dan tersebarlah perzinaan di tengah mereka, maka Allah mengirimkan penyakit tha’un lalu matilah tujuh puluh ribu orang dalam sehari. Kisah tentang hal ini telah popular disebutkan dalam kitab-kitab tafsir. Sebab utama yang menyebabkan banyaknya kematian secara masal adalah ketika zina telah merajalela lantaran kaum wanita bercampur  baur dengan laki-laki dan berjalan di tengah mereka dengan bersolek dan berhias.”
Campur baur antara laki-laki dan wanita akan membuahkan keakraban diantara mereka. Saking akrabnya, tidak jarang akhirnya terjalin hubungan khusus diantara mereka. Inilah awal merebaknya perselingkuhan dan rusaknya rumah tangga. Sebuah survey menyebutkan bahwa di sebuah kota besar, dari sepuluh wanita karier, 4 diantara mereka melakukan selingkuh. Sebabnya adalah budaya campur baur diantara mereka.
Musik dan Nyanyian adalah Mantera Zina
Cara lain setan menjerumuskan manusia ke dalam zina adalah dengan menyajikan nyanyian-nyanyian romantik. Tidak hanya itu, suara genit, tarian seksi dan hingar bingar musik dirancang untuk mendongkrak syahwat. Ibnul Qayyim berkata, “Diantara tipu daya musuh Allah yang ditujukan kepada orang yang minim ilmu (syar’i), akal, dan agamanya, yang dengannya banyak terpedaya orang yang jahil dan menyukai yang bathil adalah dengar mendengarkan siulan, tepuk tangan dan nyanyian yang diiringi musik yang haram. Hingga hal itu menghalangi manusia dari al-Quran, menjerumuskan kepada perbuatan fasik dan maksiat. Nyanyian adalah ‘quran’-nya setan, menghijabi hamba dari ar-Rahman. Nyanyian adalah mantera liwath dan zina. Dengannya, setan hendak menyulap sesuatu yang bathil nampak indah, dengannya pula setan hendak menjadikan al-Quran sebagai sesuatu yang ditinggalkan.”
Yazid bin Walid berkata: “Wahai Bani Umayyah, jauhilah oleh kalian nyanyian, karena nyanyian dapat mengikis rasa malu, mendongkrak syahwat, meruntuhkan kewibawaan, menjadi perantara untuk menenggak khamr, orang yang menikmatinya akan berbuat seperti yang diperbuat oleh orang yang mabuk. Jika kalian tidak mampu meninggalkannya, maka jauhkanlah nyanyian dari wanita, karena nyanyian adalah magnet zina.”
Efek nyanyian yang disuguhkan dengan kemasan seperti sekarang ini lebih dahsyat pengaruhnya. Bukan saja karena sya’irnya yang nyrempet-nyrempet saru (tabu), namun juga dinyayikan dengan suara genit, musik yang menggairahkan, dibumbui dengan tarian erotis penyanyi beserta penari latarnya menambah aroma penggugah selera tercela.
Padahal, seandainya disajikan apa adanya tanpa bumbu dan penyedap rasa pun sudah membuat terlena, hingga ketika sahabat agung Abdullah bin Mas’ud membaca firman Allah:
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS Luqman:6)
Beliau bersumpah tiga kali, “Demi Allah yang tiada ilah yang haq kecuali Dia, yang dimaksud (lahwal hadits) itu adalah nyanyian.”
Di kalangan madzhab Hanafi, amat tegas sikapnya terhadap nyanyian. Hingga Abu Yusuf, murid utama Abu Hanifah berpendapat bolehnya seseorang masuk rumah tanpa salam untuk mencegah kemungkaran nyanyian tersebut.
Menurut Imam Ahmad bin Hanbal, “Nyanyian menimbulkan kemunafikan di hati, aku tidak suka.” Bahkan diantara ulama menganggap bahwa nyanyian lebih memabukkan dari khamr.
Manusia tidak akan berbuat sesuatu yang menurutnya tidak bermanfaat apalagi yang jelas-jelas akan mencelakakan dirinya. Maka proyek terbesar setan adalah membentuk opini bahwa segala sesuatu yang dilarang oleh Allah itu sebenarnya berguna dan dibutuhkan. Ketika target ini tercapai, maka dengan upaya sadar manusia melanggar aturan Allah dan taat kepada iblis laknatullah.
Setan mengemas khamr sebagai sesuatu yang seolah bermanfaat, zina sebagai sesuatu yang nampaknya berfaedah, demikian pula terhadap nyanyian dan musik, setan menghiasinya agar menjadi kebutuhan yang secara fardhu harus dilestarikan dan dikembangkan dan bahwa mengikuti syahwat itu sebagai tuntutan kemajuan. Setan akan menampilkan sisi-sisi positif suatu dosa sekaligus menyembunyikan sisi negatif yang sesungguhnya lebih banyak dan nyata.
Benar apa yang disabdakan Nabi SAW,
“Akan ada diantara umatku, beberapa kaum yang menghalalkan sutera, khamr dan musik.” (HR al-Bukhari)
Solusi Islam Mengantisipasi Zina
Dahulu, sebelum Islam menyapa negeri Arab dengan cahayanya, negeri itu diliputi oleh awan jahiliyyah, gelapnya kesyirikan dan asap perzinaan. Hingga Islam datang mengenyahkan itu semua. Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari bahwa Ummul mukminin ‘Aisyah berkata :
” Sesungguhnya nikah pada zaman jahiliyyah ada empat macam,
Pertama, sebagaimana nikahnya orang-orang sekarang, yakni seorang laki-laki melamar anak orang lain kemudian memberikan mahar dan menikahinya.
Kedua, seseorang mengatakan kepada istrinya setelah suci dari haid, “datanglah kepada fulan (biasanya seorang bangsawan) dan mintalah untuk digauli.” Kemudian suaminya menjauhinya (tidak menggaulinya) sehingga jelas apakah istrinya itu telah hamil dari laki-laki lain tadi. Apabila telah jelas tandanya bahwa istri sudah hamil, barulah suami menggaulinya jika ingin. Tujuan dari perbuatan ini semata-mata karena ingin mendapatkan anak yang berketurunan bangsawan. Nikah yang semacam ini disebut “nikah istibdha’”
Yang Ketiga, sekelompok laki-laki yang berjumlah kurang dari sepuluh orang, seluruhnya menggauli seorang wanita yang sama. Kemudian tatkala dia hamil dan melahirkan dan berlalu beberapa malam setelah melahirkan, maka wanita itu memanggil para laki-laki tersebut dan mereka tidak kuasa menolaknya. Sehingga apabila mereka telah berkumpul di depan wanita terebut, wanita itu berkata, “kalian telah mengetahui apa yang kalian perbuat terhadapku, dan kini aku telah melahirkan, ini adalah anakmu wahai fulan..” dia sebut seseorang yang dia sukai diantara laki-laki tersebut, kemudian dia serahkan anak itu kepada laki-laki yang dia tunjuk.
Keempat. Sekelompok laki-laki menggauli satu wanita dan wanita tersebut tidak kuasa menolak siapa yang mengauli dirinya. Mereka adalah pelacur yang mana mereka memasang pada pintu mereka sebuah tanda sebagai pengenal bagi siapa yang ingin menggaulinya. Manakala wanita tersebut hamil dan kemudian melahirkan, maka dipanggillah mereka seluruhnya, kemudian anak tersebut diserahkan kepada orang yang mereka anggap mirip dengannya sedangkan dia tidak kuasa menolak.”
Inilah gambaran yang menunjukkan rusaknya pandangan manusia dan nafsu kebinatangannya. Bayangkan seorang , seorang laki-laki menyerahkan istrinya kepada orang lain agar tumbuh darinya anak yang memiliki bibit unggul. Ini sebagaimana seseorang yang menyerahkan hewan betinanya agar dikumpuli pejantan yang unggul sehingga mendapatkan bibit yang unggul. Seperti yang hari ini juga merebak, pasangan suami istri yang sama-sama sesat sengaja bertukar pasangan dengan suka rela, agar masing-masing bisa saling mencicipi. Inilah yang dikenal dengan sebutan ’swinger’. Benar-benar tidak waras dan keblinger.
Islam mengikis budaya itu dengan sempurna, dari pencegahan hingga antisipasi agar zina tidak menyebar ke mana-mana. Jika kita memperhatikan syari’at islam ini, akan kita dapatkan betapa syari’at telah mengaturnya dengan baik, membatasinya dengan sangat rapi dan membentengi sejak dini. Adzan hanya disyari’atkan bagi kaum laki-laki, ta’min (membaca amin setelah imam selesai al-Fatehah) yang disunnahkan keras hanya kaum laki-laki, menegur imam yang keliru pun adalah dengan menepuk tangan, bukan membaca “subhanallah” seperti yang disyari’atkan bagi laki-laki. Begitupun dengan beberapa aturan khusus lainnya.
Demikian rapatnya islam menutup pintu dan peluang bagi terjadinya perzinaan, agar setan tak bisa tertawa karena kesuksesannya. Pernah seorang sahabat mendatangi Rasulullah saw, ketika hendak duduk beliau menegur, “Tunggu, jangan duduk di situ hingga tempat kembali menjadi dingin” karena kebetulan tempat tersebut belum lama diduduki seorang wanita. Lihatlah kehati-hatian Nabi, beliau khawatir rasa hangat tempat tersebut dapat menimbulkan gejolak syahwat sahabat tadi.
Namun, tidak banyak kaum wanita yang mau memahaminya. Perlakuan khusus terhadap wanita sering dituduh sebagai diskriminatif terhadap wanita, memenjarakan hak wanita, merendahkan derajat wanita dan tuduhan keji lainnya yang dilancarkan musuh-musuh islam untuk menggembosi kaum muslimah.
Akal  pasti sepakat, jika seorang wanita berpakaian ketat dan mini, berbicara genit, ini mengundang laki-laki untuk menzinahinya. Jika dia tidak ingin dikerjai orang, mengapa dia memamerkan auratnya? Jika tidak ingin dibeli, mengapa dia menawarkan dagangannya? Jika tidk ingin memberi mengapa dia mengiming-imingkan apa yang dimilikinya?
Dalam keadaan seperti ini, bisa jadi kaum wanita menjadi tersangka atas banyaknya perkosaan yang terjadi. Meski korbannya tidak mesti orang yang pamer, bisa jadi wanita lain yang menjadi sasarannya karena telah terdongkrak nafsu syahwatnya.
Berikut ini merupakan cara Islam memerangi zina,mengikis sampai ke akar-akarnya.
1. Melarang mendekatinya
Inilah cara pencegahan yang paling jitu. Ada penjelasan yang bagus dari syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkaitan dengan firman Allah,
“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Isra’ 32)
Beliau berkata, “Larangan mendekati zina lebih kuat pengaruhnya daripada larangan berzina. Karena larangan mendekati zina sudah mengandung konsekuensi larangan atas seluruh perantara dan pendorongnya. Barangsiapa mengitari daerah larangan maka nyaris dia akan memasukinya. Apalagi dalam urusan zina yang kebanyakan nafsu sangat kuat ketertarikannya kepadanya. Dan dalam ayat ini Allah menyebut zina sebagai ‘fakhisyah’, yakni keji dan kotor, karena perbuatan zina memang dipandang kotor oleh syari’at, akal maupun fitrah. Karena zina menyebabkan terampasnya hak Allah, hak wanita dan hak suami atau istri, merusak rumah tangga, mengacaukan jalur keturunan dan kerusakan yang lain.”
Hendaknya seorang mukmin segera menarik langkahnya dengan segera ketika dia sadar bahwa langkah itu merupakan jejak setan. Karena seringkali iblis membuat tipu daya, seolah langkah-langkah itu adalah kebaikan. Maka kepekaan seorang mukmin untuk membedakan mana jalan setan dan mana jalan ar-Rahman sangat dibutuhkan. Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. sekiranya tidaklah Karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS an-Nuur 21)
2. Ghadhul Bashar
Sebagaimana telah dibahas di muka, bahwa pandangan mata adalah awal bencana zina, sementara setan-setan menebarkan sasaran di setiap sudut dan lokasi yang paling strategis, maka kesabaran untuk menahan pandangan lebih dituntut. Janganlah kita terlalu percaya diri megumbar pandangan, atau meremehkan pandangan terhadap  obyek yang haram lalu menyangka tak terjadi apa-apa. Karena bertahan untuk tidak melihat sesuatu yang haram betapapun beratnya,itu masih lebih ingan daripada membendung pengaruh setelah meihatnya. Oleh karena itulah diantara salaf berkata : “bersabar untuk menahan pandangan lebih mudah daripada bersabar atas akibat setelah melihatnya.”
Syariat memberikan solusi dari tindak perzinaan dan pemerkosaan sampai ke akarnya, memotong jalan mulai dari startnya, Allah SWT berfirman :
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS. An-Nuur 30)
Dan firman-Nya:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…” (QS. An-Nuur 31)
Nabi SAW bersabda:
“Janganlah mengikuti pandangan (pertama) dengan pandangan yang kedua, karena bagimu (keringanan) untuk pandangan pertama, namun tidak untuk pandangan yang kedua.” (HR Ahmad, diriwayatkan juga oleh Muslim dan at-Tirmidzi dengan redaksi yang hampir sama)
Pandangan pertama yang dimaksud adalah pandangan yang tidak disengaja. Itupun diperintahkan untuk segera mengalihkannya. Nabi pernah ditanya tentang pandangan tiba-tiba yang tidak disengaja, beliau perintahkan untuk memalingkan pandangannya.
Termasuk disini, laki-laki memandang wanita yang bukan istri dan bukan pula mahramnya. Karena Nabi pernah memalingkan wajah seorang sahabat yang ketahuan melihat seorang wanita, meskipun wanita tersebut berbusana lengkap menutup aurat. Lantas bagaimana halnya dengan memandang wanita yang telanjang atau nyaris telanjang?
3. Mewajibkan Jilbab bagi Wanita
Budaya bebas dan kehidupan glamour meruntuh keyakinan wanita yang telah terbangu lama, yakni luhurnya nilai kehormatan dan keperawanan. Tidak menyerahkannya kecuali kepada suami, satu-satunya yang berhak untuk itu. Bahkan wanita yang masih bersikukuh dengan itu, tak jarangdianggap kuno, percaya mitos dan polos.
Rasulullah SAW memberikan jaminan,
“Barangsiapa yang dapat menjamin dapat menjaga apa yang berada diantara kedua jenggotnya (mulut) dan apa yang berada diantara kedua kakinya (kemaluannya) maka aku berani menjamin baginya dengan jannah.” (HR al-Bukhari)
Rasulullah juga menjanjikan bagi istri yang menjaga iffah (kehormatannya)dengan sabdanya:
“Apabila seorang wanita sholat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya,maka dikatakan kepadanya, “Silahkan masuk jannah dari pintumana yang kamusuka.” (HR Ahmad dan Thabrani)
Jilbab, baik dengan makna busana muslimah ataupunkerudungnya merupakan sarana yang sangat ampuh bagi kaum wanita untuk menjaga kehormatan. Sebagaimana factor utama yang membangkitkan syahwat laki-laki untuk menzinahinya adalah karena wanita memamerkan rambut dan tubuhnya. Dan kebiasaan itu telah ada sebelum Islam bagi wanita-wanita merdeka. Allah Ta’ala berfirman,
“Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab 59)
Tragis,meskipun telah jelas perintahnya dari Allah dan Rasul-Nya, masih juga dipertentangkan atas nama manfaat dan madharatnya. Para wanita yang minim kepeduliannya terhadap agamanya, dan tipis rasa malunya terpancing oleh provokasi pengikut hawa nafsu.Mereka berangan-angan menjadiorang yang bebas memamerkan aurat di muka umum, walau sekedar menjadi penjoget latar,atau peran apa saja yang penting tampil.
4. Menikah Dengan Segera
Celaan terhadaphawa nafsu yang tersebut dalam banyak ayat, tidak berarti menafikan dan mengharuskan hilangnya hawa nafsu pada diri manusia. Cara yang adil dalam menyikapi syahwat adalah yang berda pada pertengahan diantara sikap orang-orang fajir (pendosa) yang suak berbuat zina, dengan sikap para rahib yang terlalu ekstrim dalam menolak syahwat. Islam menjaga kemaslahatan manusia, mengarahkan nafsubiologis dan syahwat yang memang dimiliki manusia ke tempat yang halal. Islam mengakui dan mengesahkannya tetapi memberikan aturan dan arahan.
Ibnul Qayyim menjabarkan sifat pertengahna ini: “Karena manusia tidak pernah lepas dari hawa nafsu selagi masih hidup, dan memang hawa nafsu itu suatu keniscayaan yang dimiliki manusia, maka mengharuskanuntuk melepas seluruh ikatan hawa nafsu sama halnya dengan menghilangkan fitrah ini. Akan tetapi yang sesuai takaran dan diperintahkan adalah mengalihkan hawa nafsu dari jurang kebinasaan menuju keamanan dan keselamatan. Sebagai contoh,Allah SWT tidak memerintahkan supaya hati berpaling dari syahwat terhadap wanita secara keseluruhan. Akan tetapi memerintahkan untuk menikahi seorang wanita atau hingga empat istri, maka Allah mengalihkan aliran syahwatdari satu posisi ke posisi yang lain.”
Pernikahan adalah solusi jitu untuk mencegah seseorang dari berbuat zina. Korelasi antara keduanya disebutkan oleh Nabi yang tidak berkata dengan hawa nafsu,
“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mampu, maka hendaknya menikah karena hal itu dapat lebih menahan pandangan dan menjaga kemaluan dan barangsiapa yang belum mampu, hendaknya shaum, karena hal itu menjadi perisai.” (HR Ahmad dan Ibnu Hiban)
Yang mengherankan, sudah menjadi tradisi kaum muda, meski sudah bertahun-tahun menjalin pacaran, bahkan sudah memiliki penghasilan yang memadai, belum juga bersegera untuk menikah. Tindakan ini,disampimg menabung dosa setiap harinya dengan pacaran, juga menjadi pintu yang sangan dekat dengan zina.
Bukan hanya dalam hadits, Al-Qur’an juga memberikan motivasi bagi para pemuda untuk segera menikah, sekaligus menepis hal-hal yang dianggap menjadi rintangan, seperti khawatir tidak kuat mencukupi kebutuhan hidup. Allah berfirman,
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian[1035] diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur 32)
Sahabat Ibnu Mas’ud juga memberikan motivasi dalam hal ini. Hingga beliau mengatakan, “Andai aku tahu bahwa umurku tinggal sepuluh hari, niscaya yang aku lakukan hari ini adalah menikah karena takut fitnah.”
5. Mengikhlaskan Ibadah Karena Allah
Tenggelamnya seseorang kedalam syahwat adalah disebabkan oleh lemahnya                tauhid. Karena setiap kali hati mengalami kelemahan tauhid, maka sedikit ikhlasnya kepada Allah Ta’ala dan semakin banyaklah kekejian dan syahwat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan komentar dalam maslah ini, “Mabuk cinta dan syahwat ini hanyalah diderita oleh orang yang berpaling dari keikhlasan kepada Allah, dimana mereka terhebak kepada sebagan kesyirikan. Sebab orang ikhlash sebgaimana yang difirmankan Allah perihal keadaan Yusuf,
“Sesungguhnya wanita itu Telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu Andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang ikhlash.” (QS. Yusuf 24)
Adapun istri raja ketika itu masih musyrik sehingga terjerumus ke dalam tindakan yang buruk. Sedangkan Yusuf ‘alaihissalam meskipun berusia muda, ditambah dengan bujukan wanita itu atas beliau dan wanita itu meminta tolong kepada kaum wanita untuk menundukkan beliau, bahkan beliau sempat dipenjara karena mempertahankan kehormatannya, maka Allah menjaganya berkat keikhlasannya kepada Allah. Allah berfirman,
“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Shaad 82-83)
Dan firman-Nya, “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr 42)
(adopted from : ‘Sayembara IBLIS, Konspirasi Setan Jin & Manusia dibalik Merebaknya Zina’_Abu Umar Abdillah)

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Poskan Komentar

Buat sobat blogger anda tulis komentar disini,angdidi tulis komentar disana tapi yang sopan ya!!!angdidi yakin anda adalah blogger yang baik matur kesuwun...