postingan terbaru

Loading

Senin, 18 Oktober 2010

MEMUPUS KEMISKINAN

 
Terdapat beberapa konsepsi manusia tentang problem kemiskinan sebagaimana tersarikan berikut ini :
( 1 ) Pendirian Golongan yang Mensucikan Kemiskinan
Menurut mereka, kemiskinan bukanlah suatu keburukan yang perlu diatasi atau problem yang butuh dipecahkan. Justru itu merupakan suatu karunia agar dapat memurnikan hati dalam berhubungan dengan Allah dan dapat menyayangi sesama manusia. Pendirian semacam ini tersebar pada sebagian ahli tasauf Islam karena pengaruh dari tasauf Hindu, Manu (di Persia), Kristen dan aliran lainnya.
(2) Pendirian Golongan Jabariyah (Fatalis)
Mereka memandang bahwa kemiskinan itu suatu bencana dan ujian. Tapi itu sudah takdir Allah yang tidak membutuhkan dokter atau obat untuk mengatasinya. Kalau Allah menghendaki niscaya semua orang akan dijadikan kaya, tapi nyatanya tidak demikian. Mereka hanya mengemukakan konsep sebatas pemberian nasehat kepada orang-orang miskin untuk ridha terhadap Allah dan sabar serta puas dengan karunia-Nya. Golongan ini tak peduli kepada orang-orang kaya dan sikap mereka terhadap kekayaannya (untuk memanfaatkan atau menghambur-hamburkannya).
(3) Pendirian Golongan yang Mengajak Berbuat Kebajikan Secara Pribadi
Garis besarnya sama dengan golongan kedua, hanya saja mereka melangkah lebih jauh tidak sekedar memberi nasehat terbatas orang miskin, tapi juga menganjurkan orang-orang kaya agar mau berkurban, berbuat baik, membantu orang-orang miskin. Sayangnya, mereka menggantungkan semua itu pada inisiatif individual orang-orang kaya itu sendiri. Mereka tidak memberi batas ukuran terhadap tingkat kekayaan tertentu yang berkewajiban membantu orang miskin. Tidak pula merumuskan peraturan (undang-undang) dan menentukan sanksi yang menjamin sampainya bantuan kepada yang berhak dan menindak mereka yang tidak menunaikan kewajibannya.
(4) Pendirian Kapitalisme (Ra’sumaliyyah)
Memandang kemiskinan sebagai suatu problem juga suatu bahaya bagi kehidupan. Tapi itu merupakan tanggung jawab si miskin itu sendiri, bukan kaum hartawan ataupun Negara. Karena baginya, setiap orang bertanggung jawab sendiri-sendiri, bebas berbuat, termasuk bebas mempergunakan hartanya. Jika ada yang mendermakannya untuk orang lain, itu adalah kelebihan pribadi orang yang bersangkutan. Masyarakat cukuplah hanya menghargai kebebasan semua orang, untuk bekerja dan mencari kekayaan. Pelopor golongan ini adalah Qarun pada zaman Nabi Musa as.
Tapi paham ini belakangan goyah dan mengadopsi beberapa pemikiran lain dengan mulai mengakui adanya hak orang-orang miskin, seperti nampak pada perkembangan Asuransi Sosial dan Jaminan Sosial.
(5) Pendirian Sosialisme Marxisme (Isytirakiyyah Marxiyyah)
Baginya, melenyapkan kemiskinan dengan berusaha menyadarkan orang-orang miskin adalah suatu hal yang mustahil tercapai kecuali jika golongan Borjuis berikut sumber-sumber penghasilan dan kekayaan mereka dimusnahkan terlebih dahulu untuk diganti kemudian dengan masyarakat tanpa kelas. Untuk itu perlu dibentuk kelas-kelas lain guna menghadapi kaum Borjuis, mereka adalah kaum Proletar, kelas Buruh, yang akan menyalakan api pertentangan antarkelas. Lebih jauh lagi, usaha ini akan mengarah pada pelenyapan prinsip hak milik pribadi (individu), lebih-lebih pada hal-hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Berbeda dari pandangan-pandangan di atas, Islam menegaskan konsepsinya tentang kemiskinan sebagi suatu problema yng perlu diselesaikan. Dan baginya, penanggulangan kemiskinan adalah sesuatu hal yang patut, bukan merupakan suatu penentangan terhadap taqdir dan iradah Ilahi. Beberapa bahaya kemiskinan dapat disebutkan berikut ini :
(1) Terhadap Aqidah
Kemiskinan akan mengundang keraguan terhadap sunnatullah di atas dunia ini, serta dapat menimbulkan kepercayaan terhadap adanya ketidakadilan (Tuhan) dalam pembagian rizki. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Hampir-hampir kemiskinan itu menjadikan seseorang kufur.”
(2) Terhadap Etika dan Moral
Kemiskinan –lebih-lebih di tengah segolongan orang kaya—mudah menimbulkan kekecewaan dan keputusasaan yang kerap mendorong seseorang untuk bertindak sesuatu yang tidak dibenarkan oleh budi luhur dan akhlak mulia. Ada pepatah mengatakan, “Rintihan perut lebih hebat daripada rintihan hati nurani.”
(3) Terhadap Fikiran
Kemiskinan akan mengganggu juga kemampuan seseorang untuk berfikir dengan cermat. Para ahli fikih bahkan berpendapat bahwa keadaan sangat lapar atau sangat haus dan sejenisnya dapat dikategorikan dalam keadaan marah. Dan terdapat riwayat sahih yang melarang seorang hakimmenjatuhkan vonis ketika ia sedang dalam keadaan marah. Imam Abu Hanifah berkata, “Janganlah kalian minta fatwa kepada orang yang dalam rumahnya tidak ada gandum.”
(4) Terhadap Rumah Tangga
Kemiskinan dapat mengancam kehidupan keluarga dan rumah tangga bahkan dalam beberapa segi, baik segi pembinaannya, kelangsungannya, maupun juga pemeliharaannya. Dengan alasan kemiskinan, banyak jejaka yang terhalang untuk menuju jenjang pernikahan karena kekhawatiran tidak mampu memberi maskawin (mahar) atau belanja keluarga (nafaqah). Untuk ini sebenarnya Allah sudah mengingatkan dalm Surah an-Nur ayat 32 yang artinya : “Dan kawinkanlah laki-laki dan perempuan-perempuan yang janda di antara kamu, dan hamba-hamba lelaki dan hamba perempuan kamu yang sudah layak (berkawin), jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya, karena Allah itu maha luas (pemberian-Nya), lagi maha mengetahui.”
Dan karena sebab faktor kemiskinan pula tidak jarang kejernihan udara rumah tangga terkotori bahkan merobek-robeknya hingga terjadi perceraian. Di masa jahiliyah, sebagian orang tua bahkan tega membunuh anak-anak mereka karena tekanan kemiskinan juga.
(5) Terhadap Masyarakat dan Ketenteramannya
Jelas bahwa kemiskinan dapat menjadi pemicu kegoncangan sosial. Terkadang orang dapat menahan kesabaran pada kemiskinan karena adanya ketidakseimbangan antara penghasilan dengan jumlah penduduk yang ada. Tapi sering kesabaran itu segera sirna karena ketidakadilan distribusi antara mereka. Abu Dzar al-Ghifary berkata, “Aku heran terhadap orang yang tidak ada makanan di rumahnya, bagaimana ia dapat menahan emosinya, tidak menyerang orang lain dengan pedang terhunus ?”
Kemiskinan dalam skala lebih besar juga dapat mengancam kejayaan umat, kemerdekaan dan kehormatan bangsa dan negara, karena kelaparan mampu memadamkan gairah untuk berjuang membela tanah airnya.
Adapun bagaimana Islam melangkah untuk memecahkan problem kemiskinan ini, oleh Al-Qardhawy disimpulkan dalam tiga jalan pokok :
(1) Jalan Pertama
Jalan khusus yang harus ditempuh oleh fihak faqir miskin itu sendiri. Yaitu wajib melakukan usaha sekemampuannya untuk bekerja. Dalam hal ini, masyarakat dan pemerintah berkewajiban memberikan bantuan baik materiil atau berupa pengarahan dan bimbingan sehingga taraf kemampuan dan penghidupannya dapat meningkat.
(2) Jalan Kedua
Berpangkal pada kesediaan masyarakat Islam untuk bertanggung jawab mencukupi kebutuhan-kebutuhan fakir miskin. Baik ini berupa sumbangan wajib maupun karena terpanggil untuk beroleh pahala di sisi Allah. Dana-dana itu dapat berbentuk : (a) Nafaqah-nafaqah yang diberikan kepada keluarga. (b) Hak-hak materiil dalam rangka menunaikan kewajiban bertetangga. (c) Zakat Fithrah, apabila tidak disalurkan lewat pemerintah. (d) Hak-hak materiil yang bersifat insidentil; denda kafarah dan nadzar, bantuan di saat tertimpa musibah, mencukupi orang yang kekurangan, dsb. (e) Shadaqah-shadaqah tathawwu’, sebagaimana yang digambarkan dalam bentuk waqaf-waqaf sosial.
(3) Jalan Ketiga
Jalan khusus yang harus dilakukan oleh fihak pemerintah (Islam), dimana secara syara’ ia berkewajiban untuk mencukupi setiap orang yang berkebutuhan sedang ia tidak memiliki sumber mata pencaharian atau tidak ada orang yang menanggung kehidupannya, baik muslim atau bukan, selama ia berada di bawah naungan kekuasaan pemerintahan Islam. Sumber-sumber untuk kebutuhan ini ialah : (a) Zakat. (b) Sumber-sumber permanen lainnya, seperti : 1/5 ghanimah (rampasan perang), maalul-fai’ (harta yang ditinggalkan musuh), kharaj (pajak tanah), jizyah (pajak penduduk non-Islam), barang-barang yang tidak ada pemiliknya atau pewarisnya, dan hasil-hasil kekayaan negara berupa penggarapan tanah, sumber-sumber alam, dsb. (c) Sumber-sumber lain, yang berupa sumbangan wajib yang ditentukan oleh pemerintah terhadap orang-orang kaya, guna menyempurnakan kebutuhan-kebutuhan faqir miskin, di saat pemasukan zakat dan sumber lainnya mengalami krisis (kemerosotan).

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Poskan Komentar

Buat sobat blogger anda tulis komentar disini,angdidi tulis komentar disana tapi yang sopan ya!!!angdidi yakin anda adalah blogger yang baik matur kesuwun...