postingan terbaru

Loading

Jumat, 08 Oktober 2010

BAGUS RANGIN SEBUAH PERJALANAN SEJARAH KEPAHLAWANAN ( versi KT.HIPPAJA )


Perjalanan Bagus Rangin dalam menentang kolonialisme dan imperialisme Belanda pada hakekatnya merupakan kelanjutan dari perlawaanan yang dilakukan oleh Pangeran SURIAWIJAYA ( Raja Kanoman ).Pusat gerakan Bagus Rangin berlokasi disekitar daerah Jatitujuh ,termasuk Kabupaten Majalengka sebelah utara, keesidenan Cirebon.Bagus Rangin berasal dari Demak,Blandong,Rajagaluh ( sekarang termasuk daerah Kabupaten Majalengka terletak di kaki Gunung Ciremai ).Beliau di lahirkan sekitar tahun 1761,beliau putra Sentayem ( Buyut Teyom ),cucu buyut Waridah,  keterunan Embah Buyut Sambeng.Bagus Rangin mempunyai 3 orang saudara,kakaknya bernama Buyut Bangin dan kedua adiknya masing-masing bernama Buyut Salimar dan Ki Bagus Serit.Ayahnya adalah seorang yang taat dalam agama Islam dan dalam tugasnya sehari-hari beliau sebagai guru agama serta dikenal sebagai kiai ( ajengan) yang tinggi ilmunya dan banyak muridnya termasuk putranya,Bagus Rangin.Sifat Bagus Rangin digambarkan oleh staple sebagi pemimpin yang gagah berani dan sanggup menyatakan perang yang didukung oleh pengikutnya yang banyak.Setelah cukup umurnya,Bangus Rangin diserahi tugas mengepalai Kebagusan Jatitujuh oleh Sultan Cirebon dengan pangkat Senapati.
Pasukan yang langsung dipimpin Bagus Rangin berjumlah antara 280 – 300 orang yang terlatih perang.Beberapa orang yang memimpin perlawanan itu selalu Bagus Rangin yang menjadi pemimpin umum,antara lain Bagus Wariem, dan Bagus Ujar dari Biyawak, Bagus Sakti dan Bagus Kondur dari Jatitujuh,Rontui dari Sindanghaji ( Rajagaluh ), Nairem dan Samun dari Baruang Kulon,Bana yang menjadi sekretaris Bagus Rangin dari Baruang Wetan,Bagus Sidung dari Sumber,Bagus Arsitem dari Loyang,Bagus Suara dari Bantarjati ,Bagus Sanda dari Pamayahan,Bagus Narim dari Leles,Bagus Jamani dari Depok,Demang Penangan dari Kandanghaur,Demang Wargagupita dari Kuningan, Wargamanggale dari Cikao,Wirasraya dari Manis,Jurangprawira dari Linggarjati, Jayasasmita dari Ciminding,Jangbaya dari Luragung,Harmanis dari Cikao, Anggasraya dari Timbang,Demang Jayaprawata dari Nagarawangi,Demang Angon klangon dari Weru Ingabei Marta Manggala dari Pagebangan,Demang Jayapratala dari Sukasari.Asal usul dari pemimpin-pemimpin perlawanan tersebut mencerminkan betapa luasnya wilayah perlawanan itu,yang meliputi wilayah Kabupaten Majalengka,Cirebon,dan Kuningan sekarang juga meliputi daerah lainnya,antara lain : Subang, Krawang, Sumedang, Indramayu.Memang mereka didukung oleh masyarakat daerah-daerah tersebut berupa tenaga manusia dan senjata,logistic ( beras dan makanan lainnya ),dan moril. Beberapa desa yang membantu Bagus Rangin adalah Banuang Kulon,Malandang,Conggeang, Cililin,Depok, Selaawi,dan Sukasari. Sedangkan kepala-kepala desa yang mendukung kaum perlawanan ialah Kepala Desa Batununggal,Tegal, Bentang,Geruda, Cinaka, Tanggulan,,Tambal, Ayer dan lain-lain. Selain dari rakyat dukungan dan bantuan itu diperolah pula dari beberapa penguasa daerah setempat terutama dalam bentuk perlengkapan perang sangat penting ( seperti senapan,meriam,dan lain-lain ) dan bahan makanan. Aadapun senjata-senjata yang digunakan pasukan Bagus Rangin ialah tumbak,,pedang,bedog, keris,senapan dan meriam. Pemuasatan pasukan Bagus Rangin disekitar Bantarjati,Jatitujuh,daerah perbatasan Sumedang Cirebon.
Semenatara itu pada tanggal 1 September 1806 tercapai persetujuan  tentang perjanjian antara Pemerintah colonial dengan Sultan Sepuh dan Anom,yang isinya anatara lain : Menetapkan bahwa Raja Kanoman beserta saudaranya dikembalikan ke Cirebon dan dinobatkan sebagai Sultan.Selanjutnya orang-orang Cina tidak di izinkan lagi tinggal di daerah pedalaman dan kepada para Sultan tidak diperkenankan memeras rakyat.

Berelakunya perjanjian itu belum dapat meredakan pergolakan rakyat daerah Jatitujuh dan sekitarnya.Bahka pada Pemerintahan Gubernur Jendral W.Den dels ( 1808 – 1811 ) justru perlawanan rakyat itu makin meluas ke daerah Indramayu sebelah selatan.
Dalam pada itu Bagus Rangin berhasil menghimpun dan membina kembali para pengikutnya dan masyarakat setempat pada umumnya sangat besar.Bagus Rangin sangat dipercaya dan diharapkan menjadi pemimpin oleh para pengikutnya.Begitu besarnya pengaruh Bagus Rangin sehingga kemudian beliau dipercaya sebagai titisan Ratu Adil yang akan melenyapkan kedholiman dan ketidak adilan serta membawa keadilan.
Dalam rangka mematangkan persiapan perang, diadakanlah penggemblengan khusus terhadap pemimpin pasukan dan anak buahnya,waktu penggemblengan dilakukan setelah sembahyang ( Shalat ) Jum’at di mesjid Jatitujuh, mereka berpakaian serba putih sebagai tanda ikhlas, rela berkorban baik harta ,jiwa maupun raga demi tanah air,bangsa dan agama.

ESTAFETA KEPEMIMPINAN
KEPALA DESA JATITUJUH
No.
N  a  m  a
Periode
1.
ARBAN
1901 – 1906
2.
MASKANI
1906 – 1911
3.
UJAM
1911 – 1917
4.
MUSTAHAB
1917 – 1924
5.
KARTAWASITA
1924 – 1943
6.
NASKA
1943 – 1949
7.
NAIPAN
1949 – 1950
8.
NASKA
1950 – 1966
9.
MOH.UJEN
1966 – 1980
10.
E.SUHARJO
1980 – 1987
11.
DIDI C. SUPARDI
1989 – 1998
12.
BADA
1998 – 2008
13
ONO MAS SURNA
2008 - …….

BAGUS RANGIN SEBUAH PERJALANAN SEJARAH KEPAHLAWANAN  ( versi A )

Perjalanan Bagus Rangin dalam menentang kolonialisme dan imperialisme Belanda pada hakekatnya merupakan kelanjutan dari perlawaanan yang dilakukan oleh Pangeran SURIAWIJAYA ( Raja Kanoman ). Pusat gerakan Bagus Rangin berlokasi disekitar daerah Jatitujuh, termasuk Kabupaten Majalengka sebelah Utara, Karesidenan Cirebon. Bagus Rangin berasal dari Demak, Blandong, Rajagaluh ( sekarang termasuk daerah Kabupaten Majalengka terletak di kaki Gunung Ciremai ). Beliau di lahirkan sekitar tahun 1761, beliau putra Sentayem ( Buyut Teyom ), Cucu Buyut Waridah,  keturunan Embah Buyut Sambeng. Bagus Rangin mempunyai 3 ( tiga ) orang saudara, kakaknya bernama Buyut Bangin dan kedua adiknya masing-masing bernama Ki Buyut Salimar dan Ki Bagus Serit. Ayahnya adalah seorang yang taat dalam menjalankan agama Islam, dan dalam tugasnya sehari-hari beliau sebagai Guru Agama serta dikenal sebagai Kiyai (Ajengan) yang tinggi ilmunya dan banyak muridnya termasuk putranya, Bagus Rangin. Sifat Bagus Rangin digambarkan oleh Staple sebagi pemimpin yang gagah berani dan sanggup menyatakan perang yang didukung oleh pengikutnya yang banyak. Setelah cukup umurnya, Bangus Rangin diserahi tugas mengepalai Kebagusan Jatitujuh oleh Sultan Cirebon dengan pangkat yang langsung dipimpin Bagus Rangin berjumlah antara 280 – 300 orang yang terlatih perang. Beberapa orang yang memimpin perlawanan itu selain Bagus Rangin yang menjadi pemimpin umum, antara lain Bagus Wariem, dan Bagus
Ujar dari Biyawak, Bagus Sakti dan Bagus Kondur dari Jatitujuh, Rontui dari Sindanghaji ( Rajagaluh ), Nairem dan Samun dari Baruang Kulon, Bana yang menjadi Sekretaris Bagus Rangin dari Baruang Wetan,
Bagus Sidung dari Sumber, Bagus Arsitem dari Loyang, Bagus Suara dari Bantarjati, Bagus Sanda dari Pamayahan, Bagus Narim dari Leles, Bagus Jamani dari Depok, Demang Penangan dari Kandanghaur, Demang Wargagupita dari Kuningan, Wargamanggale dari Cikao, Wirasraya dari Manis, Jurangprawira dari Linggarjati, Jayasasmita dari Ciminding, Jangbaya dari Luragung, Harmanis dari Cikao, Anggasraya dari Timbang, Demang Jayaprawata dari Nagarawangi, Demang Angon Klangon dari Weru, Ingabei Marta Manggala dari Pagebangan, Demang Jayapratala dari Sukasari. Asal usul dari pemimpin-pemimpin perlawanan tersebut mencerminkan betapa luasnya wilayah perlawanan itu, yang meliputi wilayah Kabupaten Majalengka, Cirebon, dan Kuningan sekarang juga meliputi daerah lainnya, antara lain : Subang, Krawang, Sumedang, Indramayu. Memang mereka didukung oleh masyarakat daerah-daerah tersebut berupa tenaga manusia dan senjata, logistik ( beras dan makanan lainnya ), dan moril. Beberapa desa yang membantu Bagus Rangin adalah Banuang Kulon, Malandang, Conggeang, Cililin, Depok, Selaawi, dan Sukasari. Sedangkan kepala-kepala desa yang mendukung kaum perlawanan ialah Kepala Desa Batununggal, Tegal, Bentang, Geruda, Cinaka, Tanggulan, Tambal, Ayer dan lain-lain. Selain dari rakyat dukungan dan bantuan

itu diperolah pula dari beberapa penguasa daerah setempat terutama dalam bentuk perlengkapan perang sangat penting ( seperti senapan, meriam, dan lain-lain ) dan bahan makanan. Adapun senjata-senjata yang digunakan pasukan Bagus Rangin ialah tumbak, pedang,bedog,keris, senapan dan meriam. Pemuasatan pasukan Bagus Rangin disekitar Bantarjati, Jatitujuh, daerah perbatasan Sumedang Cirebon.Semenatara itu pada tanggal 1 September 1806 tercapai persetujuan  tentang perjanjian antara Pemerintah Kolonial dengan Sultan Sepuh dan Anom, yang isinya anatara lain :
Menetapkan bahwa Raja Kanoman beserta saudaranya dikembalikan ke Cirebon dan dinobatkan sebagai Sultan. Selanjutnya orang-orang Cina tidak di izinkan lagi tinggal di daerah pedalaman dan kepada para Sultan tidak diperkenankan memeras rakyat.
Berlakunya perjanjian itu belum dapat meredakan pergolakan rakyat daerah Jatitujuh dan sekitarnya. Bahkan pada Pemerintahan Gubernur Jendral W.Den Dels ( 1808 – 1811 ) justru perlawanan rakyat itu makin meluas ke daerah Indramayu sebelah Selatan.
Dalam pada itu Bagus Rangin berhasil menghimpun dan membina kembali para pengikutnya dan masyarakat setempat pada umumnya sangat besar. Bagus Rangin sangat dipercaya dan diharapkan menjadi pemimpin oleh para pengikutnya. Begitu besarnya pengaruh Bagus Rangin sehingga kemudian beliau dipercaya sebagai Titisan Ratu Adil yang akan melenyapkan kedholiman dan ketidak-adilan serta membawa keadilan.
Dalam rangka mematangkan persiapan perang, diadakanlah peng-gemblengan khusus terhadap pemimpin pasukan dan anak buahnya, waktu penggemblengan dilakukan setelah sembahyang ( Shalat ) Jum’at di Mesjid Jatitujuh, mereka berpakaian serba putih sebagai

tanda ikhlas, rela berkorban baik harta , jiwa maupun raga demi Tanah Air, Bangsa, Negara dan Agama. Yang sampai dengan sekarang, peninggalan yang mash terbukti masih ada yakni Pohon Jati yang tumbuh besar dan megah di Alun-alun Desa Jatitujuh, konon dulunya terdapat Tujuh Pohon Jati sekarang tinggal dua, dan ini adalah saksi sejarah, selain itu juga bangunan MASJID yang berdiri kokoh, hasil renovasi masa kini ( konon dulu masjid itu  kecil dan hanya dapat menampung untuk beberapa jamaah saja ), juga PASAR yang berada di sebelah utara Alun-Alun Jati ( hasil renovasi sekarang )……..…..kemudian Desa Jatitujuh pada tahun 1901 mempunyai Kepala Desa atau Kuwu yakni ARBAN (1901-1906), Kemudian MASKANI (1906 – 1911), UJAM ( 1911 – 1917), MUSTAHAB ( 1917 – 1924 ), KARTAWASITA ( 1924 – 1943), NASKA ( 1943 – 1949), NAIPAN ( 1943 – 1949 ), NASKA (1950 – 1966), MOH.UJEN (1966 – 1980), E.SUHARJO (1980 – 1987 ) , DIDI C. SUPARDI (1989 – 1998), BADA (1998 – 2008), ONO MAS SURNA (2008 – Sekarang……….
Monggo buat sahabat atau rekan yang mempunyai Sejarah Kibagus Rangin yang lebih akurat dan tepat bisa dikirim ke admin! matur nuwu.......

Artikel Yang Berhubungan



5 komentar:

Saung Web mengatakan...

Mampir sob.. linknya segera saya pasang juga ya..

Jamaluddin Mohammad mengatakan...

Salam,

Menarik sekali tulisannya. Pak/Mas Didi, sebelumnya salam kenal, nama sy Jamaluddin. Boleh kasih tahu sumber tulisan ini dari mana? Soalnya sy sedang mengumpulkan data2 tentang perang cirebon, khususnya biografi dan keterlibatan bagus rangin dalam perang ini. sebelumnya trims.

angdidi mengatakan...

Data ini diambil dari berbagai sumber .tapi masih belum ada yang baku masih simpang siur...

lalang buana mengatakan...

punten angdidi,..ingabei itu dari desa watubelah,kuburannya masih ada, dan nairem itu narijem dari sindang kempek cikal bakal pesantren benda kerep,karena maslah lidah orang belanda dari narijem mjd nariyem terus jadi nairem

angdidi mengatakan...

Betul mas....

Poskan Komentar

Buat sobat blogger anda tulis komentar disini,angdidi tulis komentar disana tapi yang sopan ya!!!angdidi yakin anda adalah blogger yang baik matur kesuwun...